Minggu, 21 April 2013

a Jogja's Beach




 Maha karya-Nya tercipta lewat pandangan,
Memuji-Nya adalah suatu pengabdian,
Dalam bayang seorang menghamba,
Tiada kuasa selain Ia,

[Parangtritis, Saturday 13th April 2013]


Sabtu, 20 April 2013

Kehilangan Hadir

Aq mendapatimu dalam kebimbangan,
Orang waras yang tak tahu berbuat apa,
Jauh musafir berjalan dengan tempat yang jelas,
Jauh nelayan mengayuh dengan tangkapan yang  pasti,

Namun dirimu menggenggam fatamorgana,
Diluar mengafirmasi kesenangan, di dalam tidak,
Kasihani lah dirimu sendiri,
Bertahan dalam penyiksaan bathin di tiap waktu,
Kau kurung semangat terpatri,
Menjadikan si musuh girang terbelalak,
Adakah kau menyadari,

oh....bukan, kau sungguh menyadarinya,
Karenanya tetap kau bandel-kan saja,
Ngeyel dan keras kepala,

Tunggulah,
Hingga saat kau menjadi 'tak berguna',
Sebenarnya tetap ada guna mu,
Meramaikan budak si musuh,
Sungguh kasihan, sungguh hina,

Keluarkan semua uneg kepesimisan mu,
Kandaskan gairah juang mu,
Sampai ke titik nadir terbawah,

Aku mau tahu,
Seberapa putus asa-nya dirimu,
Hingga lebih rendah dari orang gila sekali pun,

Mengemis pengampunan dan pemaafan,
Terpenjara sebagai napi Iman,
Terhukum sebagai pelaku kriminal akhlak,
Terdakwa sebagai inspirator syubhat,

Lihat dirimu,
Jangan harap oranglain mengasihimu,
Mampus lah dalam stress-mu,
Demikian seterusnya,
Sampai masa yang kau ingini,
Hingga tiba pada satu noktah,
Kau mengalami paling rendah,
Dibanding materi apa pun,

Berusaha bangkit,
Menjadi ada dari ketiadaan,
Menjadi hadir dalam keghaiban,
Menjadi hakim pengambil putusan,
Ketok palu mana yang menjadi pilihan,
Baik atau buruk bukan suatu pukulan paksaan.

Selasa, 02 April 2013

Target si Fresh Graduate


01 Januari 2013....
Ada banyak terjadi di 2012 kemarin tentang moment istimewa maupun keterpurukan diri.

Tahun 2012 adalah tahun dimana aq dengan bangganya dapat meraih S1 ku di FKM USU. Alangkah senang tak terkira aq bisa melekatkan gelar SKM di akhir namaku. Setelah melalui masa kuliah selama empat tahun, masa-masa kampus dengan teman-teman yang beraneka macam tipe dan asal, masa dimana aq duduk manis di bangku kuliah, praktik belajar lapangan di Gunung Ambat Langkat dan Magang (LKP) di Dinas Kesehatan Kota Medan.

Itu semua terlewati dengan begitu indah namun tak terduga. Namun setelahnya begitu sunyi dan terasa sendiri. Sekarang aq harus bisa menunjukkan kepada kehidupan tentang bekal ilmu yang ku bawa. Berjuang mandiri di tengah-tengah belajar hidup yang sesungguhnya. Inilah masa kompetisi kehidupan yang sebenarnya.

Di awal tahun 2013, ku sempatkan merayakannya dengan berkumpul dengan teman-teman lama, teman masa tsanawiyah di Sipirok dulu. Dame Hrp, Syaiful Bahri, Putra Wicaksana dan Bg Hadi Syaputra. Bermula undangan makan ayam panggang di Warnet Bustamam net 1 milik Dame dan Abangnya, disitu lah kami mencoba bernostalgia kenangan masa-masa bersama di Pon-Pes KH. A. Dahlan Sipirok dulu. Singkat cerita, kini kami tumbuh dewasa di Jazirah ilmu masing-masing. Sudah banyak yang berubah di antara kami, tapi ada saja yang menyatukan jiwa kami.

Aq tak habisnya kagum dengan teman-temanku ini. Mereka terlihat mandiri dengan kesibukan masing-masing. Dame dengan usaha warnetnya, Syaiful dan Putra dengan organisasinya, serta Bg Hadi dengan kuliah pascasarjananya. Sementara aq berada di masa peralihan fresh graduate yang sedikit lebih santai. Untuk saat-saat seperti ini aq belum bisa banyak bercerita banyak hal kepada mereka. Karena aq memang gak tahu apa yang mau diceritakan.

Sepertinya aq harus pasang target di tahun ini. Sungguh ironis bila terus mengandalkan orangtua. Malu dan minder pasti menghampiri. Teringat dengan status FB salah satu temanku “serius di 2013, insya Allah 2014 sukses”. Walau terlihat simpel, namun begitulah mestinya orang yang bergiat menuju kesuksesan. Tak ada istilah berleha-leha, santai dan mendekam dalam ketidakjelasan. Harus punya visi yang jelas, semangat yang baru dan kegiatan yang direncanakan dengan baik.

Momen-momen seperti ini lah yang aq sukai. Bisa berbaur dan saling memberi inspirasi satu sama lain. Aq berdoa semoga kami semua panjang umur (amin), agar bisa bertemu di lain kesempatan lagi. Dan aq ingin bisa bercerita banyak di kesempatan itu. Aq mulai terpikirkan dengan target-target apa yang mesti dibuat untuk tahun ini. Iya, harus seperti itu mungkin. Jangan hidup terombang ambing dengan tidak ada prioritas.

Terimakasih buat teman-temanku, khususnya tuan rumah Dame Hrp. Jamuannya sungguh enak dan memuaskan, (apalagi gratis, hehe). Semoga Allah membalas kebaikanmu sobb..!. walau  di dunia akademisi perkuliahan sedikit terbengkalai, namun aq yakin sampai juga pada penghujungnya. Aq belajar banyak hal dari kalian.

Selasa, 07 Agustus 2012

Permisalan Dengan Hewan

Sebenarnya cerita ini terjadi pada puasa ke-17 kemarin (06 Agustus 2012), Cuma baru sekarang aku sempatin untuk mempostingnya.

Aku duduk sendirian di pondokan pasca sarjana FKM USU. Menunggu dosen untuk sekedar menandatangani berita acara sidang skripsiku. Ditemani kicauan burung aku mencoba menuliskan beberapa keadaan yang belakangan ini menghampiriku.

Semalam, aku merasa guyonan sang Ustadz sangat menghibur namun sarat dengan sindiran dan tekanan. Ceramah menjelang Shalat Tarawih itu benar-benar terasa fresh. Topik pembahasan seputar sifat akhlagul kariimah. Namun bukan tentang topik tersebut yang ingin aku ceritakan. Tetapi ingin lebih membahas guyuonannnya.

Si Ustadz membuat permisalan mengenai perbuatan manusia yang terkadang lebih rendah dari hewan. Permisalan tersebut memang benar faktanya,

“Kalau lah seorang Ibu rumah tangga lupa menutup tudung saji (sange) di meja dapur, lalu ada seekor kucing mengambil lauk ikan goreng, Berapa banyak kucing itu ambil biasanya?”.

“Tidak lebih dari satu ekor kan?”, jawabnya sambil bertanya. Tidak mungkin lah si kucing mengambil plastik assoy, terus dia masukkan semua ikan goreng sambil berucap dalam hati, “wah…cukup nih buat jatah seminggu”.

Ha..ha..ha.., tawa pun tidak tertahankan lagi. Hampir seluruh jama’ah baik laki maupun wanita tertawa dengan permisalan si Ustadz.

“Tapi coba kalau manusia, jangankan plastik asssoy, karung yang dipakai kalau ada”, tambahnya. Begitu lah serakahnya.

Guyonan itu amat sesuai dengan keadaanku sekarang yang sedang ditimpa musibah. Aku kehilangan benda elektronik yang menyimpan seluruh file-file penting di dalamnya. Kejadiannya sehabis sahur sekitar 10-12 hari yang lalu. Yang ada sekarang, Aku benar-benar gak suka ama tipe orang yang suka ngambil bukan miliknya (alias pencuri). Tapi sudah lah, aku mencoba merelakan. Semoga benar adanya do’a yang terdzalimi itu dikabulkan Allah (amin).

Aku juga teringat pesan ustadz Yusuf Mansur dan AA Gym. Mereka berdua memberi nasehat yang insya Allah membekas di hatiku. Saat ustadz Yusuf Mansyur kehilangan uang ratusan juta rupiah, saat AA Gym ditekan media dengan pemberitaan poligaminya, namun di saat-saat seperti itu lah keduanya berdakwah dengan “menyikapi keadaan”. Prinsipnya sebenarnya sederhana, “Orang yang hari ini lebih baik dari kemarin adalah orang yang beruntung”. Jadi sama sekali gak ada istilah “rugi” bagi orang-orang yang beriman.

Keadaan genting dan sulit sekalipun harus menjadi muhasabah diri agar selalu menjadi pribadi yang lebih baik. Bahkan tak jarang kita temukan kalau keadaan-keadaan yang begituan baru bisa menegur hati, iman dan kesadaran kita. Merasakan kehilangan, menyesali diri, dan menangis dengan sendirinya. Akan tetapi ekspresi tersebut harus ditutup dengan ingin dan rindunya hati kembali pada Allah. (wah…jadi curhat masalah itu pula ya..hehe.)

Oh iya, Kembali ke topik.

Ada juga guyonan ustadz yang tak kalah lucu juga. Tidak jauh dari permisalan di atas tadi, tapi kali ini contohnya adalah Anjing. Sebenarnya permisalan mengarah kepada ketaatan Anjing kepada tuannya dimana jauh di atas kemampuan beberapa manusia dalam mentaati Allah. Ustadz pun bertanya, “Ada ya yang bilang kalau kita melihara anjing, maka malaikat tidak suka masuk ke dalam rumah kita, siapa bilang?”, tanyanya. “kalau memang betul begitu, yaudah kau pelihara aja anjing, buat di empat arah mata angin sekitar rumah biar malaikat Izra’il mengurungkan niatnya mencabut nyawa mu”. Suara tawa pun kembali membahana.

Ustadz mengatakan sebenarnya sifat seperti hewan tersebut lah semestinya yang kita hindari. Jijik. Namun itu tadi, walaupun begitu banyak juga kita yang kalah kalau masalah ketaatan kepada tuan masing-masing.

Semoga postingan ini bermanfaat. Maaf ceritanya sedikit tercampur aduk. Mudah-mudahan teman pembaca bisa mengerti dan mengambil kebaikannya. amin.

Jumat, 15 Juni 2012

Tilang Bull Shit !

Kejadiannya kemarin sore, persis di depan Sun Plaza Medan.
Sebelumnya, aq dibantu “adiq” ngmabil sampel penelitian seharian. Mulai dari Simpang pos padang bulan, ke Arah Amplas, terus ke Aksara dan terakhir di dekat Komplek TASBI setia Budi.
Tidak ada kesulitan sewaktu ngambil sampel, Cuma pas di Aksara aja ada sedikit kecurigaan kami ma penjual gorengan. Awalnya kami bersapa ramah dan santun ma penjualnya, tapi ketika kami hendak meminta sampel minyak gorengnya, kelihatan dech raut wajah nolaknya.
maaf…
maaf ya Mas…
Ga bisa, Maaf…
Berulang kali kata itu Ia ucapkan.
Hwuhhh…aq pun capek memintanya. Padahal di awal aq sudah jelasin sich apa tujuan wawancara dan ia Ngge’ ngge wae (kata orang jawa).
Ya kontan aja aq dan si “adiq” curiga berat ma dagangan si ‘Mas’ itu. Masa’ minta minyak goreng yg digunakannya sedikit aja gak dia kasih. Pasti ada apa2 kan???
Tapi sudah lah, aq males perpanjang buruk sangka pada ‘Mas’ ini.

Nah…sepulang dari sana, kami memilih jalan yang ngelewati pasar Hindu dekat Kesawan.
Tiba-tiba aja, ketika melintas depan Sun Plaza kami dihadang ma Pak Polisi.
“Silahkan pinggir Pak..!”
“Ada apa ya Pak, ada yang salah?”
“Kenapa Bapak tidak menghidupkan lampu utama di siang hari?”
Aq terkejut, memang lampu depan sepeda motorku lagi rusak dan yang bisa menyala hanya lampu kecil disampingnya. Padahal niatku ada untuk menghidupkan lampu utama.
“ya kan kami memang hidupin lampu utama Pak, cuman ini lagi rusak aja?”, aku bersikeras.
“Bapak kan bisa hidupin lampu tembak jauh?”, tampiknya.
“oh gitu ya Pak, asal Bapak tahu aja ya, waktu kami hidupin kayak gitu kami ditegur juga ma Pak Polisi di depan Palladium Supermall. Jadi gimana tuh?”, balasku.
‘begini Pak, yang betul itu yang lampu utama dihidupkan”, ia ngotot.
“Jadi Bapak Polisi yang depan Palladium itu salah donk Pak?, katanya silau kalau kami hidupin lampu tembak?”. Aq juga tambah ngotot.
“iya, itu salah”.
Hampir setengah memaki aq dalam hati dengan sikap polisi Indonesia, khususnya Kota Medan yang berbeda-beda gini. Yg ini berkata begini, yg itu berkata begitu, ntah mana yg dituruti.
Kemudian Bapak polisi itu menilang aq, aq yang sudah terlanjur terbawa emosi sedikit pun malah menyuruhnya mencatat cepat. Aq sudah tak sabar menuju pengadilan lalu lintas dan ingin membeberkan sikap polisi yang tak seragam dalam bersikap.
Jelas saja itu merugikan kendaraan bermotor yg lagi lewat.
Sebenarnya aq melihat dia mau menawarkan sesuatu,
“Begini Pak, maunya…….?”,
“udah..cepat aja tulis Pak!”, Kataku pada polisi itu.
Aq sudah menduga bakal ditawari titip denda tilang.
Aq dah bosan kayak gituan. Aq pengen sesekali hadir di Pengadilan. Seperti apa rasanya.
Si “Adiq” menguatkan aq,
“iya Bang, gak papa. Adek tahunya kek mana keadaan waktu sidang nanti. Halah….main-mainnya itu. Gak serius pengadilannya”, katanya.
“adek usahain temani abang kesana nanti, gak usah khwatir Abang. Kalau memang benar, pengadilan akan bebaskan nanti”, tambahnya.
Dalam hati aku berucap sendiri, “iyalah…, biar tahu juga kek mana waktu sidang di pengadilan gitu. Sekalian pengen ngomong ma Pak Hakim.”
Kami pun berlalu dari tempat pos Pak polisi itu, SIM-ku ditilang.
Dan kami sidang tanggal 22 Juni nanti.
Ntar aq share juga kek mana aq usahain untuk dapatkan SIM itu lagi.
(sstt…”Bang, Adek ada ide. Tenang aja”, ucap si ‘adiq’ setengah  berbisik)

Oke, cukup segitu aja dulu.
Kami dah rencanain sesuatu.
Ntar di postingan selanjutnya aq kasih tahu deh.
Masih rahasia, dan belum tahu tingkat keberhasilannya.
So, untuk teman2 yang berpengalaman pernah ditilang, sesekali gak usah mau titip denda tilang begitu saja. Coba donk sesekali ikut pengadilan. Biar tahu gimana?
Seandainya pun nanti tetap bayar denda, itu jauh dari permintaan polisi matre yang biasa hentikan pengendara di jalan-jalan besar.
Dan aku mau coba buktikan itu….
next previous home