Minggu, 23 Maret 2014

Terlarut dalam pembiaran


Sangat sulit untuk menemukan motivasi jika anda dalam keadaan tertekan. Maka dari itu Hilangkan beberapa perasaan negatif dalam diri anda. | @kata2bijak
Dalam menghadapi masalah biasanya kita lebih fokus pada kesulitan diri sendiri daripada solusi penanganan masalah itu sendiri. | @PsikologID

23 maret 2014  00.06 WIB
Kini aku hampir berada di jurang keputusasaan, lemas, lesu, sangat tidak semangat. Hilang gelora yang menjadi bahan bakar aktivitasku. Kalut, sekarang yang ada “hidup segan, mati tak mau”. Nilai, niat suci, kebiasaan baik, dan semua hal positif telah aku coba latih beberapa bulan yang lalu -ketika kaki baru beberapa minggu menapaki kota Semarang-, kini sirna, hangus atau tercemar dengan polusi kendali emosi yang lepas kandang.

Saat itu kuberjuang demi Rabb-ku, demi cita-cita, demi si belahan hati, demi keluarga dan demi hal baik lainnya. Ku training hati, jiwa dan fisik untuk mempersiapkan sebisa mungkin menuju yang dicitakan. Namun ada saja alasan diri untuk menerima atau melawan dinamika yang ada. Aku jatuh terperangkap dalam kekecewaan yang dalam. Memilih betah memberontak bisikan hati yang begitu murni. Memaksakan diri asyik dalam kesunyian dan kesendirian. Aku pilih aku begini....

Siapa lagi yang lebih bisa memahami mu selain keluarga? lalu bagaimana rasanya ketika keluarga mempermainkan niat baik mu?

Si belahan hati, bagaimana rasanya menyadari diri bahwa kamu hanya bisa menyakitinya saja? Memberi harapan yang tinggi lalu membantingnya dengan ketidakpastian. Bahkan jika kamu memang tega melakukan kontak fisik untuk melampiaskan amarah mu?. Tolong jelaskan padaku jika kamu merasakan itu?

Karena kalau aku sendiri, kini menjadi mayat berjalan. Tanpa ruh, perhatian maupun suntikan dukungan. Aku berjalan tanpa arah yang pasti. Mengikuti aliran waktu. Berpasrah total menyerahkan diri pada lalu lintas kehidupan semu, full hopeless...

Karena kalau aku sendiri, kini merasa santai melepaskan ‘dia’ wanita hebat yang berhak bahagia tanpa melalui aku. Aku mengenali diriku yang akan membuatnya kecewa nanti bila tetap lanjut bersama. Melepasnya demi kebahagiaannya, atau agar sekedar tak merana....

Dua ‘tweet’ di awal tulisan tadi sangat aku banget. Tapi untuk  menghilangkan kecewa ini, aku tidak yakin segera. Memerlukan waktu yang tidak pasti meredakannya sedikit demi sedikit. Sebenarnya aku juga gak yakin bakal hilang, karena secara sadar aku memutuskan membiarkan diriku terlarut hanyut, pontang panting, tergopoh-gopoh, tersesat dalam lika-liku efek emosional itu sendiri.

Usah kasihani aku. Karena aku tak berbelas kasihan juga. Aku melalui waktuku dengan skenario yang sudah tertulis koq, jadi ngapain juga aku harus stress merencanakan atau mempersiapkan ini-itu lagi. Terserah kalau ini salah, biarkan saja aku siuman menuju kegilaan jiwaku...

Selasa, 02 Juli 2013

Coretan 'Lazy'

Ada masa jenuh, titik dimana “menulis” sama sekali tidak terpikirkan untuk dilakukan. Terkadang bukannya tak terpikirkan, tetapi malas tengah melanda suasana hati. Aneh terasa, ada aja alasan untuk bermalas-malasan.

Kalau lagi sibuk-sibuknya gak sempat nulis karena alasan banyak aktivitas. Kalau lagi kosong gini malas nulis karena gak ada ide, inspirasi dan hampa kreasi.

Huffft....ternyata gak mudah jadi penulis. Padahal kalau gak nulis, gak ada cerita tersisa hari ini. Dan diri menjadi seonggok sejarah yang tak dianggap. Aku sempat berpikir apakah menulis adalah bakat, bawaan lahir atau skill yang mesti diasah.

Ntah lah. Yang aku tahu, kalau seseorang dah suka atau hobby melakukan suatu aktivitas, dianya pasti udah mencintai dan menikmati pekerjaannya.

So,ini sepertinya berarti kalau diriku belum enjoy menulis. Atau bahkan belum memiliki satu pun pekerjaan yang benar-benar dinikmati?. Pusing deh mikirinnya...(haha)

Bukannya aku gak tahu kalau orang-orang besar/populer dan terkenal adalah orang yang suka menulis. Tapi akunya aja mungkin yang nanti tak bernasib jadi terkenal/populer. Halah.....

Lagi-lagi mau nyalahin nasib. Kasihan aku ini. Nasib gak berubah kalau tingkah laku gak diubah dari sekarang. Itu udah kausalitas (sebab akibat).

Biar aja lah malas-malas gini. Ntah mau sampai kapan puncak kemalasan ini. Biar aja kemalasan melakukan sesuatu sampai dia puas, sampai dia muntah, mencret, sakit dan sekarat. Biar tahu rasa dia....(aneh....koq jadi mencak-mencak si 'kemalasan')

Ini adalah bagian dinamika dari suasa hatiku yang tengah galau di masa mudanya. Hati muda berdarah muda, dini tapi sudah tercemari oleh kekhilafan dan cela, sehingga ambigu melihat tujuan niat.

Kasihani hamba ya Tuhan....
Malas ini sulit kali menceritakannya, kenapa, bagaimana, apa dan kapan hadirnya?, tak ubahnya seperti kentut seseorang ditengah keramaian. Terasa aromanya, tapi gak ngerti kenapa mesti aku yang cium, bagaimana suara kentutnya, apa baunya, dan suka-sukanya aja mau kapanpun lewat di hidung.

Ampun...ampun...perumpamaan yang bodoh. Sudah lah, sebelum bertambah aneh nanti tulisan ini.
Bye..... :p

Rabu, 24 April 2013

Saksi Bisu Sanksi di Lab Kesling

Langkah Hari-ku |  Ini adalah rekaman saat diberi sanksi hukuman "nyanyi" di  laboratorium kesehatan lingkungan FKM USU. Lucu untuk mengenangnya. Peristiwanya tahun 2011 gitu.
Sebenarnya bisa dilihat di youtube langsung.
Tapi, karena dah terlanjur aq upload, sekalian aja aq posting ke blog. Biar ini video gak terlupakan.
Khususnya teman-teman satu peminatan yang tampil dalam rekaman show ini. (haha)

Video ini aq dedikasikan buat teman-teman ku yang penuh semangat,
Mereka diantaranya : "RD" | "MRD" | "BuH" | "FKh" | "MA" | & Si Dokumentator "RH"




Apa tanggapan kalian?
hehe

Sabtu, 20 April 2013

Kehilangan Hadir

Aq mendapatimu dalam kebimbangan,
Orang waras yang tak tahu berbuat apa,
Jauh musafir berjalan dengan tempat yang jelas,
Jauh nelayan mengayuh dengan tangkapan yang  pasti,

Namun dirimu menggenggam fatamorgana,
Diluar mengafirmasi kesenangan, di dalam tidak,
Kasihani lah dirimu sendiri,
Bertahan dalam penyiksaan bathin di tiap waktu,
Kau kurung semangat terpatri,
Menjadikan si musuh girang terbelalak,
Adakah kau menyadari,

oh....bukan, kau sungguh menyadarinya,
Karenanya tetap kau bandel-kan saja,
Ngeyel dan keras kepala,

Tunggulah,
Hingga saat kau menjadi 'tak berguna',
Sebenarnya tetap ada guna mu,
Meramaikan budak si musuh,
Sungguh kasihan, sungguh hina,

Keluarkan semua uneg kepesimisan mu,
Kandaskan gairah juang mu,
Sampai ke titik nadir terbawah,

Aku mau tahu,
Seberapa putus asa-nya dirimu,
Hingga lebih rendah dari orang gila sekali pun,

Mengemis pengampunan dan pemaafan,
Terpenjara sebagai napi Iman,
Terhukum sebagai pelaku kriminal akhlak,
Terdakwa sebagai inspirator syubhat,

Lihat dirimu,
Jangan harap oranglain mengasihimu,
Mampus lah dalam stress-mu,
Demikian seterusnya,
Sampai masa yang kau ingini,
Hingga tiba pada satu noktah,
Kau mengalami paling rendah,
Dibanding materi apa pun,

Berusaha bangkit,
Menjadi ada dari ketiadaan,
Menjadi hadir dalam keghaiban,
Menjadi hakim pengambil putusan,
Ketok palu mana yang menjadi pilihan,
Baik atau buruk bukan suatu pukulan paksaan.

Selasa, 27 Maret 2012

"Kebiasaan adalah saya"

Saya selalu mendampingi anda.
Saya adalah pembantu anda yang paling rajin, atau beban anda yang paling berat.
Saya akan mendorong anda maju, atau menarik anda jatuh ke dalam jurang kegagalan.

Saya sepenuhnya ada dalam kendali anda.
Setengah dari apa yang anda lakukan mungkin akan anda serahkan kepada saya, dan saya akan melakukannya dengan cepat, tepat.
Saya mudah dikelola -anda hanya perlu tegas terhadap saya.
Tunjukkan bagaimana tepatnya anda ingin agar sesuatu dikerjakan, dan setelah beberapa pelajaran saya akan melakukannya secara otomatis.

Saya adalah pelayan bagi semua orang hebat; dan apa boleh buat, juga bagi orang-orang gagal.
Mereka yang gagal, saya yang membuat mereka gagal.
Saya bukan mesin, sekalipun saya bekerja dengan presisi dari sebuah mesin ditambah kecerdasan manusia.
Anda mau mendayagunakan saya dan mendapatkan keuntungan, atau memanfaatkan saya untuk kehancuran - hal itu tidak ada bedanya bagi saya.
Ambil saya, latih saya, tegaslah terhadap saya, dan saya akan meletakkan dunia dibawah kaki anda.
Anggap enteng saya dan saya akan menghancurkan anda.

Siapa saya?

Saya adalah kebiasaan.
previous home