Selasa, 03 April 2012

Kisah Sukses Kawasan Tanpa Rokok di Provinsi DKI Jakarta


Ini salah satu tugas Perencanaan dan Evaluasi Promosi Kesehatan (PE Promkes) sewaktu kuliah S1 dulu mengenai komentar terhadap sebuah artikel kesehatan. Saya share...mudah-mudahan bermanfaat.

Artikel
Masalah merokok dewasa ini telah menjadi masalah kesehatan masyarakat, karena menyangkut sebagian besar masyarakat terkena dampaknya yang negatif. Konsumsi tembakau khususnya perilaku merokok aktif di Indonesia meningkat, termasuk kaum muda dan perempuan. Sementara itu, perokok pasif yaitu orang yang tidak merokok tetapi menghisap asap rokok dari perokok aktif, antara lain bayi dana anak-anak memiliki tingkat kerentanan tinggi apabila tidak memperoleh perlindungan yang memadai.

Kebiasaan merokok akan memperbesar faktor risiko penyakit degeneratif seperti penyakit jantung dan pembuluh darah, penyakit paru, gangguan kehamilan dan risiko terjadinya gangguan fungsi reproduksi. Pengendalian para perokok yang menghasilkan asap rokok yang sangat berbahaya bagi kesehatan perokok aktif maupun perokok pasif merupakan hal yang perlu dilakukan diantaranya melalui Penetapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) sebagai pengamanan rokok bagi kesehatan.


Salah satu kisah sukses Penetapan Kawasan Tanpa Rokok adalah di Provinsi DKI Jakarta. Diawali dengan pertemua-pertemuan lintas program yang membahas tentang KTR di tingkat provinsi, akhirnya disepakati akan melakukan advokasi kepada Gubernur DKI bersama-sama dengan LM3 (Lembaga Menanggulangi Masalah Merokok). Dengan upaya yang gigih dan penuh kesabaran, akhirnya Gubernur, yaitu Sutiyoso, merespon KTR dengan mengeluarkan SK (Surat Keputusan) Gubernur No.16 Tahun 2004 tentang Pengendalian Rokok di Tempat Kerja di Lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Selanjutnya SK tersebut disosialisasikan di seluruh jajaran pemerintah daerah sampai kecamatan dan kelurahan bahwa di Lingkungan Kerja di DKI harus ada KTR.

Sebagai tindak lanjut dari SK Gubernur tersebut, diadakan pertemuan KTR di Balai Kota dengan melibatkan lintas sektor di bawah koordinasi Biro Administrasi Kesehatan dan Biro Hukum untuk sosialisasi ke lintas sektor, dan hasilnya adalah dukungan dari lintas sektor khususnya pihak swasta untuk mengembangkan KTR dilingkungan kerja.

Kiranya SK Gubernur saja tidak cukup untuk mewujudkan program KTR agar dapat berkibar dan menyadarkan masyarakat bahwa asap rokok sangat merugikan bagi kesehatan, baik bagi perokok aktif maupun perokok pasif. Untuk memperkuat SK tersebut, disusunlah Naskah Akademik untuk pembuatan peraturan daerah dengan melibatkan pakar rokok dan konsultan dari Pranata UI. Berkat usaha yang gigih dan dorongan dari beberapa LSM yang menangani masalah merokok, seperti WITT (Wanita Indonesia Tanpa Tembakau) dan LM3, akhirnya Naskah Akademik tersebut diajukan ke gubernur dan walikota. Gayung bersambut, pada waktu itu Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) sedang menyiapkan peraturan daerah tentang Pencemaran Udara untuk diajukan ke DPRD, akhirnya rancangan peraturan daerah tentang rokok dapat dimasukkan untuk menjadi bagian dari peraturan daerah tentang Pencemaran Udara.

Setelah peraturan disahkan dalam Peraturan Gubernur DKI No.75 tahun 2005, dan diadakan sosialisasi mulai bulan Februari 2005, kemudian diberlakukan mulai tanggal 6 April 2005 dan diberlakukan mulai 6 April 2005. Peraturan daerah ini mengatur mengenai kawasan dilarang merokok di tempat umum, tempat kerja, angkutan umum, tempat ibadah, arena kegiatan anak-anak, tempat proses belajar mengajar dan tempat pelayanan umum.

Penetapan Kawasan Tanpa Rokok merupakan upaya perlindungan masyarakat terhadap risiko gangguan kesehatan karena lingkungan tercemar asap rokok. Dengan demikian penetapan Kawasan Tanpa Rokok ini perlu diselenggarakan di berbagai tatanan, yaitu Tempat Umum, Angkutan Umum, Tempat Ibadah, Arena Kegiatan Anak-anak, Tempat Proses Belajar Mengajar dan Tempat Pelayanan Kesehatan. Kawasan Tanpa Rokok hanya akan tercapai melalui komitmen yang tinggi dan kerja keras berbagai pihak. (Sumber: www.promosikesehatan.com)


Komentar
“Pengaruh buruk rokok ternyata tak hanya ditanggung oleh si perokok aktif. Pada kenyataannya, pengaruh buruk tersebut mesti ditanggung oleh perokok pasif, yang kebanyakan anak-anak dan balita. Melihat keadaan seperti ini, pemerintah DKI Jakarata lewat beberapa lembaga di masyarakat yang antusias terhadap rokok, mengusulkan kepada pengambil keputusan-dalam hal ini Gubernur- untuk membuat SK dan peraturan khusus untuk kawasan bebas rokok. Dan akhirnya sang pengambil keputusan menyetujuinya. 

Hal yang paling urgen dalam artikel ini adalah bagaimana kepekaan kita terhadap permasalahan sekitar lalu mempengaruhi pengambil keputusan untuk mendukung dan menguatkan upaya kesehatan yang ada.

KAJIAN TENTANG PENYAKIT EPIDEMI DI 25 KABUPATEN/KOTA SUMATERA UTARA

Salam,
disini saya ingin share salah satu tugas Mata Kuliah sosiologi.
ini sudah cukup lama, tapi masih saya anggap relevan sampai kondisi saat ini. Postingan ini berisi tentang penyakit epidemi yang khas dari beberapa Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara.
(semoga informasinya membantu)...

1. Kabupaten Humbang Hasundutan
*  beribukotakan Dolok Sanggul.
*  Penyakit epidemi:
Ø Kusta
Ø Penyakit asma
Ø Diabetes mellitus
Ø Demam
Ø Gastritis
*   Penyebab
disebabkan karena infeksi (bakteri, virus, jamur, parasit, dan nematoda), dan adanya penyakit pada saluran pencernaan.
*   Gejala
dengan gejala utamanya adalah nyeri pada ulu hati, mual dan muntah.
*   Pencegahan
Langkah pertama yaitu mengonsumsi makanan lunak dalam porsi yang kecil-kecil, berhenti mengonsumsi makanan yang pedas dan asam, dan berhenti merokok serta minuman beralkohol.


2. Kabupaten Langkat
*   Penyakit epidemi:
o  Diare
o  ,Penyakit DBD
o  Gatal-gatal
o  ISPA ( Infeksi Saluran Pernafasan Akut dan Gondok endemis

3. Kabupaten Deli Serdang
*      beribukota Lubuk Pakam.
*      Penyakit epidemi di kabupaten ini adalah:
®   Penyakit  TB paru
*      Penularan
Penyakit TBC biasanya menular melalui udara yang tercemar dengan bakteri Mikobakterium tuberkulosa yang dilepaskan pada saat penderita TBC batuk.
*      Gejala
Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, nafsu makan berkurang, batuk-batuk lebih dari 3 minggu, perasaan tidak enak, lemah
*      Pencegahan
Menghindari pendekatan dengan si penderita TBC dan melakukan pemeriksaan fisik apabila ada gejala-gejala.
®   Diare,
®   Diabetes mellitus,
®   Dyspepsia,
®   Hipertensi,
®   Kusta,
®   DBD,
®   Gastritis dan
®   Malaria
*      Penularan
Penyakit ini disebabkan oleh protozoa yang disebut Plasmodium, yang dalam salah satu tahap perkembang biakannya akan memasuki dan menghancurkan sel-sel darah merah. Vektor yang berperan dalam penularan penyakit ini adalah nyamuk Anopheles.
*      Gejala
Mengalami demam tinggi dan menggigil selama beberapa jam, disertai pengeluaran keringat yang banyak, pusing, mual.
*      Pencegahan
Pencegahan dilakukan dengan Pembersihan Sarang Nyamuk (PSN), menghindarkan diri dari gigitan nyamuk, atau pemberian khlorokuin bila mengunjungi daerah endemik malaria.  

4. Kabupaten Asahan
          Penyakit epidemi yang sering diderita masyarakat di Kab. Asahan tepatnya beribukota Kisaran ini yaitu:
®  Malaria diare
*      Penularan
Infeksi oleh agen penyebab terjadi bila makan makanan / air minum yang terkontaminasi tinja ( E.Coli )/ muntahan penderita diare. Penularan langsung juga dapat terjadi bila tangan tercemar dipergunakan         untuk menyuap makanan.
*      Gejala
Suatu penyakit dengan tanda-tanda adanya perubahan bentuk dan konsistensi dari tinja , yang melembek sampai mencair dan bertambahnya frekwensi berak lebih dari biasanya. (3 kali atau lebih dalam 1 hari.)
*      Pencegahan
Dilakukan dengan sanitasi lingkungan dan pencegahan dehidrasi dengan pemberian oralit bagi setiap penderita yang ditemukan di lapangan.
®  Kaki gajah
*      Penularan
Filariasis adalah penyakit menular ( Penyakit Kaki Gajah ) yang disebabkan oleh cacing Filaria yang ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk.
*      Gejala
Demam berulang-ulang selama 3-5 hari pembengkakan kelenjar getah bening (tanpa ada luka) didaerah lipatan paha, ketiap (lymphadenitis) yang tampak kemerahan, panas dan sakit serta pembengkakan pada kaki.
*      Pencegahan
berusaha menghindarkan diri dari gigitan nyamuk vector misalnya dengan menggunakan kelambu bula sewaktu tidur, menutup ventilasi rumah dengan kasa nyamuk, menggunakan obat nyamuk semprot atau obat nyamuk baker.
5. Kabupaten Karo
Kabupaten karo merupakan dataran tinggi dengan ibukota Kabanjahe, dengan ketinggian 600 – 1400 m diatas permukaan laut. Penyakit epidemi di kabupaten ini adalah:
® Gondok, ini dikarenakan berada didaerah pegunungan yang beriklim tropis basah.
*      Penyebab
Karena di daerah pegunungan Yodium yang di dapatkan dari mengkonsumsi makanan dan minuman berada dalam bentuk ion yodium ang sedikit, dan besarnya bergantung dari kadar yodium dalam tanah.
*      Gejala
Malas bergerak, kegemukan, dan kulit yang mengering.
ð Pencegahan
Penyakit gondok dan dapat ditanggulangi dengan mengkomsumsi garam yang ber-iodinisasi NaI (100mg iyodium per gram garam
® Malaria
® DBD
® ISPA dan
® Rabies

6. Kabupaten Labuhan Batu
Penyakit epidemi yang diderita masyarakat di kabupaten ini adalah:
® Penyakit malaria, dengan kaki gajah karena lingkungan yang kurang bersih dan banyak genangan air tempat vector berkembang. pencegahannya dapat dilakukan dengan sanitasi lingkungan. Selain itu, ada juga
® Penyakit frambusia
*      Gejala
Penularan
Frambusia adalah penyakit menular menahun dan kambuhan yang disebabkan oleh kuman treponema pertenue. Penyakit ini biasa menyerang anak-anak usia di bawah 15 tahun dan tidak diobati akan menimbulkan kecacatan.
*      Pengobatan
Dengan obat Benzathine Penicilline sekali suntik dapat menyembuhkan luka-luka akibat penyakit ini.
7. Kabupaten Dairi
Penyakit epidemi yang sering diderita masyarakat di Kab. Dairi tepatnya beribukota Sidikalang ini yaitu:
®  Penyakit reumatik, disebabkan suhu didaerah ini sangat tinggi
®  sebahagian kecil menderita penyakit DBD(Demam Berdarah Dengue),dan
®   Kolera


*      Penularan
kolera merupakan penyakit akibat daripada jangkitan virus (kuman), vibrio cholera melalui air minuman yang tercemar kerana pengendalian yang tidak bersih.
*      Gejala
Penderita mengalami perut tegang (abdominal cramps), mual, muntah, dan kekeringan
*      Pengobatan
®  Dirawat dengan rehidrasi dan antibiotik, tetapi dalam kes teruk, kolera (taun) bolemenyebabkan kematian.

8. Kabupaten Mandailing Natal
Kabupaten ini beribukotakan Panyabungan. Daerah Mandailing Natal dikelilingi oleh hutan-hutan dan masih banyak rawa-rawa sehingga bila hujan banyak genangan air ada daerah yang kebanjiran. Jadi banyak masyarakat terkena penyakit:
®  Malaria
®  gatal-gatal dan
®  DBD

9. Kabupaten Nias
Penyakit epidemi yang diderita masyarakat di kabupaten ini adalah penyakit:
®  Malaria
®  Diare
®  Cacingan
®  Penyakit kulit
®  Muntaber dan
®  TBC
Ini di karenakan kondisi lingkungan yang kurang bersih.

10. Kabupaten Nias Selatan
Ibukota kabupaten ini adalah Teluk Dalam. Daerah ini kebanyakan menderita penyakit malaria yang dapat dicegah dengan sanitasi lingkuangan.

11. Kab. Phak-Phak Barat
Kabupaten dengan ibukota Salak. Penyakit yang diderita masyarakat adalah kolera.

12. Kabupaten Samosir
Kabupaten ini beribukota Pangururan. Penyakit yang diderita masyarakat adalah Diare.

13. Kabupaten Serdang Bedagai
Kabupaten yang beribukota Sei Rampah yang berhawa panas dan kebun kelapa sawit. Dua hal inilah yang pertama kali kita rasakan saat memasuki wilayah Serdang Bedagai karena banyaknya perkebunan kelapa sawit ini menyebabkan banyak genangan air apabila turun hujan dan merupakan tempat berkembangnya vektor nyamuk berakibat penyakit:
®  Malaria dan
®  Demam Berdarah Dengue.

14. Kabupaten Simalungun
Kabupaten ini beribukota Pematang Siantar.Penyakit yang diderita masyarakat adalah:
®  Diare
®  Rabies
®  DBD dan
®  Kolera.

15. Kabupaten Tapanuli Selatan
Sebuah kabupaten yang luas wilayahnya 18.897 Km2 dengan jumlah penduduk sekitar 1 juta jiwa. Penyakit epidemi yang di derita masyarakat adalah malaria, selain itu banyak juga masyarakat menderita diare karena kualitas air yang kurang baik. Keadaan ini dapat dicegah dengan sanitasi lingkungan.

16. Kabupaten Tapanuli Tengah
Penyakit epidemi di daerah beribukota Pandan ini adalah ISPA ( Infeksi Saluran Pernafasan Akut
*      Gejala
Badan pegal-pegal ( myalgia ), beringus, batuk, sakit kepala,dan sakit tenggorokan.
*      Penularan
Oleh virus, bakteri, dan jamur yang di bawa melalui udara
*      Pencegahan
Dengan memberikan antibiotic dan dapat mencegah infeksi lanjutan

17. Kabupaten Tapanuli Utara
Kabupaten Tapanuli Utara beribukota di Tarutung, dengan luas 10.605 Km2. Penyakit epidemi yang diderita masyarakat adalah,
®  penyakit rabies atau anjing gila, karena manyoritas masyarakat memelihara anjing. 
*      Gejala
Berupa demam, sakit kepala, malaise, sakit tulang, kehilangan nafsu makan, mual, rasa nyeri di tenggorokan, batuk dan kelelahan luar biasa selama beberapa hari (1-4 hari).
*      Penularan
Penyakit rabies disebabkan oleh virus rabies dan menular pada manusia lewat gigitan atau cakaran hewan penderita rabies atau dapat pula lewat luka yang terkena air liur hewan penderita rabies. Dibawa oleh anjing, kucing, kelelewar, kera, musang dan serigala, bisa mempengaruhi sistem saraf pusat.
*      Pencegahan
Usaha yang paling efektif ialah mencuci luka gigitan dengan air (sebaiknya air mengalir) dan sabun atau ditergent selama 10-15 menit, kemudian diberi antiseptik (alkohol 70 persen, betadine, obat merah atau lainnya). Pemberian vaksin anti rabies (VAR) atau VAR disertai dengan serum anti rabies (SAR)

18. Kabupaten Toba Samosir
Penyakit epidemi yang diderita masyarakat di kabupaten ini adalah:
®  Penyakit diare
®  ISPA
®  Bronchitis.
®  Penyakit kulit
®  Alergi
®  Disentri
*      Gejala
Gejala penyakit ini antara lain mencret dan perut mulas. Kotorannya pun berlendir dan berdarah.
*      Penularan
Disebabkan Shigella atau sejenis amuba, Entamoeba histolytica. Kadang-kadang, disentri juga karena infeksi parasit babi, yaitu Balantidium coli dan cacing daun (Schistosoma japonicum) melalui makanan dan air yang sudah dikotori atau yang disebarkan oleh lalat.
*      Pencegahan
Dengan menjaga kebersihan, membasmi lalat di rumah, serta jaga makanan dan minuman dari kotoran. Pengobatan dengan memberikan oralit dan antibiótica
®  Pneumonia,
*      Gejala
Gejala penyakit ini berupa napas cepat dan napas sesak, karena paru meradang secara mendadak.
*      Penularan
Penyebabnya bisa bermacam-macam dan diketahui ada 30 sumber infeksi, dengan sumber utama bakteri, virus, mikroplasma, jamur, berbagai senyawa kimia maupun partikel.
*      Pencegahan
Pengobatan awal biasanya adalah antibiotic, selain itu mendapat pengobatan tambahan berupa pengaturan pola makan dan oksigen untuk meningkatkan jumlah oksigen dalam darah.

19. Kota Padang Sidempuan
Salah satu kota di Provinsi Sumatera Utara dengan luas wilayah 114,65 Km2. Penyakit epidemi yang diderita masyarakat adalah penyakit malaria dan kolera.

20. Kota Medan
Penyakit epidemi yang diderita di Medan adalah:
®  Penyakit DBD ( Demam Berdarah Dengue )
*      Gejala
Demam tinggi selama 4 - 7 hari, nyeri-nyeri pada tulang, diikuti dengan munculnya bintik-bintik atau bercak-bercak perdarahan di bawah kulit.
*      Penularan
Vektor yang berperan dalam penularan penyakit ini adalah nyamuk Aedes aegypti.
*      Pencegahan
Pencegahan dilakukan dengan menghindari gigitan nyamuk di sepanjang siang hari (pagi sampai sore) karena nyamuk aedes aktif di siang hari atau mengarasinya dengan 3M.
®  Malaria
®  Diare
®  TB paru dan
®  ISPA.
21. Kota Binjai
Penyakit epidemi yang di derita masyarakat yaitu DBD, malaria, dan kolera.

22. Kota Pematang Siantar
Penyakit epidemi yang diderita masyarakat di kabupaten ini adalah penyakit diare, kolera dan DBD.
*   Gejala diare          :Suatu penyakit dengan tanda-tanda adanya perubahan bentuk                                dan konsistensi dari tinja, yang melembek sampai mencair dan bertambahnya frekwensi berak lebih dari biasanya. (3 kali atau lebih dalam 1 hari.)
*   Penularan             :Infeksi oleh agen penyebab terjadi bila makan makanan / air                                    minum yang terkontaminasi tinja ( E.Coli )/ muntahan penderita diare. Penularan langsung juga dapat terjadi bila tangan tercemar dipergunakan untuk menyuap makanan.
*   Pencegahan          :Dilakukan dengan sanitasi lingkungan dan pencegahan dehidrasi                            dengan pemberian oralit bagi setiap penderita yang ditemukan di lapangan.

23. Kota Sibolga
Penyakit epidemi yang diderita masyarakat di kabupaten ini adalah penyakit ISPA dan DBD

24. Kota Tanjung Balai
Penyakit epidemi yang diderita masyarakat di kabupaten ini adalah penyakit malaria, Demam berdarah Dengue dan kolera

25. Kota Tebing Tinggi
Penyakit epidemi yang di derita masyarakat yaitu:
®  Demam berdarah dengue.
®  TBC ( tuberclosis )
*      Gejala
Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, nafsu makan berkurang, batuk-batuk lebih dari 3 minggu, perasaan tidak enak, lemah
*      Penularan
Penyakit TBC biasanya menular melalui udara yang tercemar dengan bakteri Mikobakterium tuberkulosa yang dilepaskan pada saat penderita TBC batuk.
*      Pencegahan
menghindari pendekatan dengan si penderita TBC dan melakukan pemeriksaan fisik apabila ada gejala-gejala.

Tewas Setelah Keracunan Makan Gorengan

Langkah Hari-ku | Satu orang tewas dan 5 orang lainnya kritis akibat keracunan makanan gorengan. Korban yang diketahui bernama Rahmawati Sagala (16) warga Desa Mbinalum Kecamatan Sitellu Tali Urang Jehe  (STTUJ) merupakan Siswi kelas satu SMA N I Sigunung. Sedangkan 5 Orang lainnya yakni Mahuya br Angkat (45), Anita Sagala (18) Siswi kelas II SMA N I Sigunung, Irvan Sagala (12) Siswa kelas I SMP N I Nanjombal, Yusuf Sagala (11) dan Dernawan Angkat (10) Pelajar kelas IV dan V SD MIS Laentombel terpaksa harus dilarikan ke RSUD Sidikalang karena mengalami keadaan kritis.

Kepada wartawan, Dr. Dorina Silaban dan Dr. Novrina Situmorang yang bertugas di Puskesmas Sibande Kecamatan Sitellu Tali Urang Jehe mengungkapkan sampai saat ini kelima pasien yang telah dirujuk sudah dirawat intensif dan diduga penyebapnya akibat keracunan makanan. Sehingga ke lima pasien terpaka harus dirujuk ke RSUD Sidikalang Kabupaten Dairi melihat kondisi pasien yang kritis.

Karena panik warga dusun Laentombel sempat berbondong-bondong mengungsi kerumah Lahuddin Angkat selaku Kepala Desa  yang berjarak 1 KM dari lokasi kejadian, "Mereka ketakutan melihat kejadian tersebut warga yang diduga keracunan makan kejang-kejang dan merintih kesakitan semula mereka mengira kesurupan sehingga mereka takut terjangkit" Ungkap Lahuddin.

Menurut keterangan warga yang berdomisili dilokasi kejadian diperkirakan peristiwa ini terjadi sekitar pukul 08.30 WIB. Asalnya Korban memakan gorengan sejenis bakwan yang biasa dijual oleh Mahuya.

Hingga saat ini petugas kepolisian masih mengusut penyebab keracunan ini yang diduga berasal dari gorengan.

Berikut dugaan bahaya gorengan yang berhasil dihimpun: 

1. Sering terkontaminasi bakteri yang berbahaya.
Hal ini disebabkan karena gorengan yang telah matang diletakkan di tempat yang terbuka, sehingga mudah dihinggapi lalat, terpapar debu dan udara kotor.
2. Sayur-sayuran yang dipakai banyak yang sudah tidak segar.
Biasanya karena harga sayuran yang sudah tidak segar tersebut jauh lebih murah dari harga sayuran segar. Bahaya dari sayuran tidak segar ini sebenarnya tidak ada, hanya nilai gizinya sudah jauh berkurang dibandingkan dengan sayuran yang masih segar.
3. Pemakaian minyak goreng curah yang berbahaya.
Tidak semua minyak goreng curah berbahaya ya, yang tidak berbahaya adalah minyak goreng biasa yang dipasarkan tanpa merk tertentu.
4. Tinggi kandungan lemaknya
Dalam gorengan, terdapat kandungan lemak trans (trans fat) yang tinggi. Di mana lemak ini berasal dari minyak yang dikandung oleh makanan yang digoreng. Tanpa disadari, kadar kolesterol di dalam tubuh kita pun dapat terganggu.
5. Penambahan plastik ke dalam minyak goreng panas.
Hal itu dilakukan agar gorengan lebih renyah dan tetap renyah setelah beberapa jam di goreng.
6. Bahaya kertas bekas pembungkus gorengan.
Selain karena kertas bekas tidak terjamin kebersihannya ternyata kertas sebagai pembungkus gorengan pun dapat menyebabkan keracunan. Hal ini disebabkan karena tinta  mengandung bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan yaitu timbal.
(ard/jpnn
Sumber : http://www.108csr.com
next previous home