Rabu, 27 Agustus 2014

Jangan Sembarang Bicara dengan Orang yg Tidak Dikenal saat Berada di Fasilitas Publik

Bismillahirrahmaanirraahiim...
Sedikit berbagi cerita berisi nasehat bagi kita, pada tanggal 24/08/2014 terjadi peristiwa yang sepertinya sedikit menguras perhatian dan kekesalanku pada diri sendiri. Bagaimana tidak, hewan pun tidak akan jatuh pada lubang yang sama. Tetapi sungguh aku manusia yang lemah (namun sering merasa sombong), aku kembali khilaf, teledor, dan naas ketika harus kehilangan titipan uang orangtua untuk adek-adekku di Medan.

Peritiwa pertama terjadi ketika aku baru saja menginjak tanah Jakarta. Dari stasiun gambir, aku menaiki KOPAJA menuju stasiun Tanah Abang untuk menyambung naik kereta api. Disitulah secara tidak sadar aku kehilangan smartphone dari sakuku. Sungguh terhipnotis. Aku menyadarinya setelah turun dari kopaja tersebut. Sementara pelakunya sudah turun terlebih dahulu, tidak lama setelah barang yang mereka incar didapatkan. Namun kejadian ini tidak terlalu kupusingkan. Dengan sedikit upaya, aku mencoba ikhlas merelakan smartphone-ku tersebut yang nilainya tidak terlalu besar.

Peritiwa kedua, sungguh sesak di dada ketika tersadar bahwa aku terhipnotis 3 orang oknum di angkot 07 menuju Aksara, Medan. Pelajaran yang amat berharga. Bukannya tidak pernah mendengarkan nasehat orang-orang bahwa harus berhati-hati dengan orang yang tidak dikenal, terutama ketika berada di fasilitas publik, jangan sembarang ngobrol. Namun aku menganggap enteng saran tersebut. Kini baru terbukti bahwa nasehat itu memang sangat nyata adanya.

Setibanya di Medan pagi hari, aku dan penumpang lainnya turun di loket (pool) CV. Padang Bolak di Jl. SM.Raja. Karena lapar, aku pun sarapan di rumah makan tempat loket Bus tersebut. Setelahnya, aku bergegas menyeberang  jalan untuk mencari angkot menuju Aksara sambil membawa koper yang berukuran cukup besar. Sedikit bertanya-tanya kepada orang sekitar, akhirnya aku tahu angkot 07 berwarna kuning dapat mengantarkanku sampai Aksara. Lalu aku pun me-nyetop salah satu angkot 07. Disinilah peristiwa naas itu terjadi. Dan aku sangat ingat betul trik penipu/penghipnotis/pencuri yang mencari mangsa di angkutan umum yang kualami saat itu. Saat itu semua pelaku adalah 3 orang laki-laki dan berperawakan kebapakan.

Sesaat setelah menaiki angkot 07, berselang 1-2 menit kemudian naik lah seseorang yang tidak terlalu mencurigakan. Orang pertama (Or-1) berambut agak panjang menjulur ke leher, terlihat seperti orang perantau namun kalem. Saat itu aku belum curiga sama sekali. Namun 1 menit kemudian, naik lah seseorang bapak (Or-2) berkulit gelap, memakai kaos berkerah berwarna belang-belang dan mengenakan lobe/peci putih namun tidak rapi. Wah dalam hati aku sudah tidak merasa nyaman karena aku paham betul seseorang yang terbiasa mengenakan lobe/peci tidak akan serampangan/asal-asalan. Posisi saat itu mau tidak mau mengharuskanku mengambil tempat duduk di sudut angkot karena membawa koper. Si bapak berlobe/peci tadi langsung mengambil tempat duduk persis di depanku, sementara orang pertama tadi ada disebelah kanannya.

Belum terjadi diskusi saat itu. Namun sekitar 1 menit berikutnya, naiklah orang ketiga (Or-3) bertubuh gemuk, kulit gelap, memakai baju kemeja, menyandang tas kantor dan langsung saja mengambil tempat duduk persis sebelah kiri-ku. Aku terpojok, aku dihimpit olehnya dan aku benar-benar sangat tersudut. Belum lagi koper yang kutaruh didepanku semakin menambah sensasi sempit di angkot tersebut.


Meraka pun memulai dramanya.

Koper yang semula didepanku digeser menjadi persis berada diantara Or-1 dan Or-3, karena si Or-2 merasa koper tersebut menimpa kakinya sehingga Aku dan Or-2 tidak terhalang oleh koperku tadi. Setelah itu, Or-2 (bapak berlobe/peci) beraksi dengan modus mengeluarkan selebaran-selebaran kecil yang berisi tulisan promosi pengobatan alternatif yang dapat mengobati penyakit kronis, dan dibagi-bagikannya ke Or-1, Or-3 dan Aku. Sebenarnya malas sekali menerima selebaran promosi yang begituan. Tetapi karena duduk persis di depanku, aku terima begitu saja. Bagiku yang lulusan S1 Fak. Kesehatan Masyarakat USU tidak semudah itu langsung percaya metode pengobatan yang begituan. Apalagi selebarannya sangat tidak menarik dan hanya berwarna hitam putih (a.k.a fotokopi-an). Ok, aku terima selebarannya dan hanya kupegang. Mulailah Ia berpromosi lewat bicara,

“Kami dapat mengobati berbagai penyakit dengan metode penyembuhan bla...bla..bla”.
Aku cuek aja.
Or-1 terlihat berminat dan sok asyik, lalu ngomong, “Alamatnya dimana Pak?, bisa untuk wanita juga kan?”
“Oh bisa, bisa Pak”.

Lalu aku kaget, tiba-tiba Or-2  ini malah nanya ke aku  dengan gaya sok akrab:

‘Dari mana Bang”
(aku diam aja)

“Saya bisa memeriksa abang punya penyakit atau tidak. Sudah berumur berapa sekarang?”,

Mungkin karena sifat dan karakterku yang mudah akrab dengan orang, sekalipun baru dikenal, akhirnya aku menjawab, “Tebak lah umur berapa?, lagian aku masih muda. Belum ada penyakit serius”.

Sungguh sial/naas, aku pun terpancing juga dalam obrolannya.

“Coba sini tangan Abang aku periksa”,

Langsung dia pegang tanganku yang masih memegang koper.
“Udah, gak usah Pak. Gak Perlu”, jawabku.

Tapi tetap saja dia kusuk jemariku. Lalu Aku tarik jemariku, namun tangannya liar mengusuk kakiku sebelah kiri.

Denyut nadiku bergemuruh. Berusaha aku hindarkan kakiku, dan kulepaskan tangannya. Namun karena posisi tersudut, Dia kembali mudah menjangkaunya. Aku benar-benar jadi mangsa, jadi bulanan mereka. Sempat aku berdoa kepada Ilahi Rabbi  di dalam hati agar terhindar dari niat jahat orang. Namun ntah kenapa pikiranku hanya fokus pada koper di depanku, kedua ponsel di saku kiri dan kanan celana. Tetapi mengabaikan saku kiri belakang celanaku yang aku sisipkan uang sebanyak 5jt rupiah. Tidak terpikirkan sama sekali olehku.

Sementara penumpang lain acuh tidak acuh memerhatikanku. Aku heran, tidak sedikitpun mereka tergerak menolongku. Apalagi supir angkot, yang kuat dugaanku sebenarnya bekerjasama dengan oknum pelaku hipnotis ini, hanya asyik mengemudikan angkot ke depan.

Masya Allah, memang sungguh naas. Sekitar setengah menit Or-2 ini meraba-raba kaki kiriku. Akupun tidak sadar bahwa uang 5jt telah raib dari saku belakangku. Aku tidak tahu persis siapa yang mengambilnya. Apakah si Or-2 atau si Or-3.

Aku tidak diajak ngobrol lagi, namun pikiranku belum juga sadar hingga secara beratur mereka turun dari angkot.

Angkot berhenti, si Or-2 turun lebih dahulu, lalu 1 menit disusul Or-3. mereka cepat sekali menjauhi angkot tersebut. Agaknya ada seorang penumpang yang mulai curiga dengan gerak gerik turunnya mereka.

‘Hei Bang, coba cek kantong dulu. Ada yang hilang gak?”, tanyanya ke arahku.

Baru aku tersadar.
Aku periksa, ternyata benar. Uang di kantong belakangku hilang. Aku panik.

“Wah...aku kirain tadi itu teman abang. Lain kali gak usah mau diajak ngobrol sama orang yang gak dikenal”, tambahnya.

Penumpang lain pun spontan, “Stop Bang supir, berhenti. Ada yang kecurian ni”, kata penumpang lainnya.

Suasana isi angkot berubah jadi panik, takut dan bercampur iba melihatku. Angkot berhenti.

“Kejar bang sebelum jauh orangnya”, seorang pemumpang lain menyarankanku.

Aku buru-buru turun, namun aku tetap ingat koper yang kubawa. Karena penumpang angkot agak ramai, aku kesusahan menurunkan koper, dan tentu saja sedikit memperlamaku untuk turun.

“Udah kejar aja langsung Bang, gak usah bayar angkot lagi. Cari aja becak”,

Aku gak tahu lagi siapa yang mengatakannya. Tapi karena aku sudah terbawa panik, aku turuti saja saran itu. Angkot tersebut kemudian bergerak maju. Aku tungguin sesaat becak yang mau melintas ke arahku. Aku hentikan seorang abang becak.

“Bang, bisa putar balik. Aku kena hipnotis nih. Sekitar semenit yang lalu”
“Oh, iya Bang. Ayok...!”, jawabnya serius sambil membantuku menaikkan koper.

“Berapa kena Bang”, tanyanya.
“Aduh sial kali bang. Kenapa aku gak sadar ya. 5jt Bang...” jawabku.
“Lumayan Bang, ke arah mana”.

Aku menujukkannya ke arah persimpangan dekat dengan stasiun Bus Batang Pane Baru. Namun tidak terlihat lagi. Kami putar lagi becaknya, melihat ke sekeliling untuk kedua kalinya. Namun mereka berdua tidak tampak lagi.

Sekiranya aku sedikit tenang sedikit saja, tentu aku tidak melupakan Or-1 yang masih dalam angkot. Dari Or-1 ini bisa saja aku mintai keterangan dan menuduhnya mau merampokku. Aku menduga dia mengincar koper yg kubawa. Berharap aku terbawa panik dan meninggalkan koperku dalam angkot. Tapi untung saja aku masih memegang erat koper ku. Dan di saat panik pun, aku  masih kepikiran koper tersebut. Lemas, lesu, kesal, murung, sedih yang luar biasa tiba-tiba menyeruak ke dalam pikiranku. Lunglai terasa.

"Udah lah bang, gak nampak lagi. Abang antar aja aku ke Jl. Pancing III. Berapa bang?”, tanyaku. Setelah deal dengan tarifnya, kami pun jalan.

Si abang becak mencoba meredakanku. Dia ceritakan bahwa Amplas dan Pasar Sambu merupakan kawasan paling rawan akan peristiwa yang baru saja kualami.

“Aku sebenarnya tahu Bang orang-orangnya, ya tahu sekedar gitu lah. Dari pakaian mereka, tampang mereka, sedikit mencurigakan.tapi gak enaklah main tuduh aja. Nanti berantam pula bang.”, dia menjelaskan.

Aku pun meng-iyakan dalam hati. Karena benar, orang-orang yang berprofesi seperti itu hanya bisa dihakimi saat tertangkap tangan sedang melakukan aksinya. Atau paling tidak kita punya bukti kuat akan barang yang diambilnya.

Sepanjang jalan dia juga menceritakan beberapa peristiwa yang langsung dia lihat. Salah satunya tentang seorang wanita tidak sadar ketika ada seorang pria meraba-raba payudaranya dengan leluasa. Na’udzu billah....tsumma na’udzu billah....

Jadi begini,
Dari pengalamanku di atas aku mau memberi poin-poin penting, dimana ini juga akan selalu kuingat seterusnya sejak peritiwa tersebut menimpaku :
Ä   KALAU ADA BARANG BAWAAN, APALAGI YANG MENCOLOK SEPERTI KOPER DAN TAS BESAR, USAHAKAN TIDAK MENAIKI KENDARAAN PUBLIK. NAIKI SAJA TAKSI, ATAU CUKUP BECAK. ATAU MINTA DIJEMPUT OLEH KERABAT, TEMAN DEKAT, DLL.
Ä        JANGAN LETAKKAN DOMPET/UANG DI SAKU BELAKANG KETIKA MENAIKI KENDARAAN PUBLIK, DAN BERADA DI FASILITAS PUBLIK LAINNYA (TERUTAMA ANGKOT). ATAU BIAR LEBIH AMAN, CUKUP PEGANG SAJA UANG UNTUK BAYAR TARIF ANGKUTAN, DAN SELEBIHNYA DISIMPAN DALAM TAS. DAN TAS TERSEBUT LETAKKAN PERSIS DI DEPAN KITA.
Ä  USAHAKAN TIDAK MEMBAWA UANG CASH (KONTAN). BIASAKAN MEMBAWA DAN MENGIRIM UANG LEWAT REKENING (ATM).
Ä    JANGAN SEKALI-KALI MAU DIAJAK NGOBROL OLEH SESEORANG YANG TIDAK DIKENAL KETIKA BERADA DI FASILITAS PUBLIK. (ABAIKAN SAJA).

2 komentar:

  1. Wah turut prihatin rahas, udah dua kali ya? Terima kasih udah share pengalamannya, bisa jadi masukan untuk tetap berhati-hati ditempat umum. Semoga Allah membalas perbuatan mereka

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sobb, naas memang.
      Diambil hikmah nya aja lah. Mana tahu masih kurang dalam bersedekah selama ini. ;-)

      Hapus

next previous home