Selasa, 10 September 2019

Sedekah yang Terbungkus Dengan Harga Diri

Aku kandaskan kesombonganku setelah melihat video viral di timeline FB-ku. Merinding dan miris rasanya diri ini dipenuhi kesombongan. Sementara dia dengan hidupnya yang begitu, berpikir jauh merencanakan tabungan masa depannya. Ampuni hamba yang sombong ini ya Rabb..!




Wahai orang merasa kaya belajarlah dari mereka, #Kedermawanan Yang Tertukar.

Seorang wanita bertanya pada penjual telur yg sudah tua, "Berapa harga telurnya?". Penjual telur menjawab, "Satu butir harganya Rp 2.500, Nyonya."

Wanita itu berkata, "Saya mau mengambil 6 butir tapi dengan harga Rp 12.500 atau kalau ngga ya udah, ngga jadi beli." Penjual telur menjawab, "Baiklah, mungkin ini awal yg baik karena dari tadi tak ada satupun telur yg berhasil saya jual."

Wanita itu mengambil telur-telur tersebut dan berjalan dengan perasaan senang bahwa dia sudah menang.

Kemudian dia masuk ke dalam mobil mewahnya dan pergi ke restoran bersama temannya. Di sana, dia bersama temannya memesan apapun yg mereka sukai. Mereka makan sedikit dan menyisakan banyak dari apa yg sudah mereka pesan. Kemudian wanita tersebut membayar tagihannya. Tagihannya sebanyak Rp 450.000. Dia memberikan uang Rp 500.000 dan berkata bahwa kembaliannya untuk sang pemilik restoran saja.

Kejadian seperti ini mungkin terlihat normal bagi pemilik restoran, tapi sangat menyakitkan bagi penjual telur yg sudah tua.

Intinya adalah: "mengapa kita selalu menunjukkan bahwa kita punya kuasa ketika kita membeli dari orang-orang yang membutuhkan?. Dan kenapa juga kita jadi dermawan kepada orang-orang yang bahkan tidak membutuhkan kedermawanan kita?".

Suatu ketika saya pernah membaca:

"Ayahku biasa membeli barang2 remeh-temeh dari orang miskin dengan harga tinggi, walaupun dia tidak membutuhkan barang2 tersebut. Kadang2 dia bahkan membayar lebih untuk itu. Aku tertarik pada hal ini dan lantas bertanya mengapa dia melakukannya? Kemudian ayahku menjawab, 'Anakku, ini adalah sedekah yg terbungkus dengan harga diri.'"

Saya tahu anda tak akan membagikan pesan ini, tapi jika anda merasa bahwa orang-orang perlu mengetahuinya, maka sebarkanlah pesan ini.

Kalimat yg pantas untuk jadi perenungan: 
"SEDEKAH YANG TERBUNGKUS DENGAN HARGA DIRI."

credit to : Yayat Akadir

Rabu, 11 Oktober 2017

Ringkasan 'Why Asians Are Less Creative Than Westerners (2001)'

Nasehat ini mungkin sudah viral di jejaring sosial. Saya pribadi begitu pertama kali membacanya langsung terenyuh karena sangat membenarkan pesan yang disampaikan. Demikian bunyi nasehat tersebut:

Prof. Ng Aik Kwang dari University of Queensland, dalam bukunya “Why Asians Are Less Creative Than Westerners (2001)” yang dianggap kontroversial tapi ternyata menjadi “best seller”, mengemukakan beberapa hal tentang bangsa-bangsa Asia yang telah membuka mata dan pikiran banyak orang :

1.    Bagi kebanyakan orang Asia, dalam budaya mereka, ukuran sukses dalam hidup adalah banyaknya materi yang dimiliki (rumah, mobil, uang dan harta lain). Passion (rasa cinta terhadap sesuatu) kurang dihargai. Akibatnya, bidang kreativitas kalah populer oleh profesi dokter, lawyer, dan sejenisnya yang dianggap bisa lebih cepat menjadikan seorang untuk memiliki kekayaan banyak.

2.    Bagi orang Asia, banyaknya kekayaan yang dimiliki lebih dihargai daripada CARA memperoleh kekayaan tersebut. Tidak heran bila lebih banyak orang menyukai cerita, novel, sinetron atau film yang bertema orang miskin jadi kaya mendadak karena beruntung menemukan harta karun, atau dijadikan istri oleh pangeran dan sejenis itu. Tidak heran pula bila perilaku koruptif pun ditolerir/diterima sebagai sesuatu yg wajar.

3.  Bagi orang Asia, pendidikan identik dengan hafalan berbasis “kunci jawaban” bukan pada pengertian. Ujian Nasional, tes masuk PT dll, semua berbasis hafalan. Sampai tingkat sarjana, mahasiswa diharuskan hafal rumus-rumus ilmu pasti dan ilmu hitung lainnya bukan diarahkan untuk memahami kapan dan bagaimana menggunakan rumus-rumus tersebut.

4.    Karena berbasis hafalan, murid-murid di sekolah di Asia dijejali sebanyak mungkin pelajaran. Mereka dididik menjadi “Jack of all trades, but master of none” (tahu sedikit- sedikit tentang banyak hal tapi tidak menguasai apapun).

5.   Karena berbasis hafalan, banyak pelajar Asia bisa jadi juara dalam Olimpiade Fisika, dan Matematika. Tapi hampir tidak pernah ada orang Asia yang menang Nobel atau hadiah internasional lainnya yang berbasis inovasi dan kreativitas.

6.   Orang Asia takut salah (KIASI) dan takut kalah (KIASU). Akibatnya sifat eksploratif sebagai upaya memenuhi rasa penasaran dan keberanian untuk mengambil risiko kurang dihargai.

7.  Bagi kebanyakan bangsa Asia, bertanya artinya bodoh, makanya rasa penasaran tidak mendapat tempat dalam proses pendidikan di sekolah.

8.   Karena takut salah dan takut dianggap bodoh, di sekolah atau dalam seminar atau workshop, peserta Asia jarang mau bertanya tetapi setelah sesi berakhir peserta mengerumuni guru/narasumber untuk minta penjelasan tambahan.

Dalam bukunya Profesor Ng Aik Kwang menawarkan beberapa solusi sebagai berikut:

1.  Hargai proses. Hargailah orang karena pengabdiannya bukan karena kekayaannya.
2.  Hentikan pendidikan berbasis kunci jawaban. Biarkan murid memahami bidang yang paling disukainya.
3.    Jangan jejali murid dengan banyak hafalan, apalagi matematika. Untuk apa diciptakan kalkulator kalau jawaban utk X x Y harus dihafalkan?. Biarkan murid memilih sedikit mata pelajaran tapi benar-benar dikuasainya.
4.    Biarkan anak memilih profesi berdasarkan PASSION (rasa cinta) nya pada bidang itu, bukan memaksanya mengambil jurusan atau profesi tertentu yang lebih cepat menghasilkan uang.
5.  Dasar kreativitas adalah rasa penasaran berani ambil resiko. AYO BERTANYA!
6.    Guru adalah fasilitator, bukan dewa yang harus tahu segalanya. Mari akui dengan bangga kalau KITA TIDAK TAHU!
7. Passion manusia adalah anugerah Tuhan. Sebagai orang tua kita bertanggung-jawab untuk mengarahkan anak kita untuk menemukan passionnya dan mensupportnya.

Mudah-mudahan dengan begitu, kita bisa memiliki anak-anak dan cucu yang kreatif, inovatif tapi juga memiliki integritas dan idealisme tinggi tanpa korupsi.

Senin, 03 April 2017

Ironi 'Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati'

الوِقَايَةُ خَيْرٌ مِنَ الْعِلَاجِ

Menemukan artikel bagus yang mengingatkan kembali bahwa "al wiqaayatu khairum minal 'ilaaji" alias mencegah itu lebih baik daripada mengobati. Bercerita tentang perumpamaan/ permisalan sering kali membuat kita lebih mudah memahami pesan-pesan baik yang -mungkin- cenderung berbahasa 'langit'. 

Ada seorang yang membuka bisnis kebun binatang. Di pintu masuknya, dia (owner) memasang tarif ticket masuk 30 dolar/orang tapi tidak ada 1 orang pun yang masuk.

Karena beberapa lama tidak ada pengunjung maka harga ticket pun ia turunkan menjadi 20 dolar dan tetap tidak 1 orang pun mau masuk. 

Merasa kecewa karena masih tidak ada juga pengunjung, akhirnya ia kembali turunkan tarif ticket menjadi 10 dolar namun tetap saja tidak ada pengunjung yang masuk.

Hingga akhirnya dia mendapatkan ide, ditulislah pengumuman:
*"MASUK GRATIS"* 

Dan benar saja, kemudian banyak orang yang rebutan masuk dan berhimpit-himpitan.

Ketika pengunjung di dalam penuh, si owner ini membuka semua pintu kandang binatang buas singa, harimau, serigala, ular dan mengunci pintu Exit (keluar). 

Lalu di pintu keluar Ia buat tulisan:
*"KELUAR BAYAR 500 DOLAR !!"*

Apa yang terjadi?.  Orang-orang pun berebutan bayar.

Inilah ironi kehidupan. Ketika ditawarkan untuk hidup sehat, 'STOP MEROKOK, STOP MIRAS, puasa sunnah, olahraga, minum air putih, komsumsi nutrisi kesehatan (dalam upaya pencegahan penyakit), banyak orang tidak mau, tidak peduli dan 'EGP'.

Tapi kalau sudah masuk Rumah Sakit, berapapun mahalnya biaya RS tersebut, pasti akan dibayarnya untuk dapat sembuh, sekalipun harus jual asset atau berhutang. (Manquul)



Selasa, 28 Februari 2017

Sajak 'Rindu'

Walau beribu hari dilalui
Selalu saja tersimpan bayangan di hati
Walau dihalau pergi
Selalu saja kembali

Ah, rindu ini harusnya tak pantas bersemi
Belum ... sungguh belum waktunya hadir disini
Tetapi apalah daya kami untuk mengusir pergi
Yang terlanjur ada di dalam hati

Walau beribu hari dilalui
Selalu saja tersimpan keinginan di diri
Walau banyak yang mencabari
Selalu saja datang menyambangi

Sadarlah ... disinilah bentuk pengendalian diri
Sadarlah ... disinilah kepekaan diri diuji
Memilih menjalani atau pergi
Memilih bahagia atau tetap begini

*Puisi Gubahan Mbak Chaca

Rabu, 01 Februari 2017

Aku Mencintamu Sebagaimana Kamu Mencinta

I love you the way you are, I love you the way you were

Nemu lagu arab lawas "Zaujati" yang bait-bait lagunya berisi kekaguman dan pujian untuk istri tercinta. Musik dan lagunya begitu syahdu, ketukan musik dalam tempo lambat dan suara vokalis (Ahmed Bukhatir) yang merdu menambah kesejukan tersendiri dalam lagu ini. Ditambah isi bait lagunya yang ringan tapi sangat dalam bisa kiranya mewakili kata-kata hati untuk si ‘kekasih halal’.

Silakan nikmati dan resapi :


LIRIK DAN TERJEMAHANNYA

أُحِبُّـكِ مثلما أنـتِ أُحِبـُّكِ كيـفما كُنــْت
ومهما كانَ مهمــــا صارَ أنتِ حبــــــــيـبتي أنتِ
حَلالـــــــــي أَنتِ لا أَخْشى عَذولاً هَمّـُــــــــــــــــــه مَقْتِي
لقدْ أَذِنَ الزمــــــــــــــــــــــانُ لنا بِوَصْلٍ غَــــــــــــــــــيْرِ منْبَتِّ
سَقَيْـــتِ الحُــــــــــــــــــبَّ في قلبـي بِحُســـــــــــــــــْن الفعلِ والسَّمْتِ
يغيبُ السَّعـــــــــــــــــــْدُ إن غِبْتِ ويَصْـــــــــــــــــــــــــفو العَيْشُ إِنْ جِئْتِ
نهاري كــــــــــــــــــــــــادِحٌ حتى إذا ما عُـــــــــــــــــــــــــــــــــــــــدْتُ للبـيتِ
لَقِيتُكِ فانْجَـــــــــــــــــــــــــــــلى عني ضَــــــــــــــــــــــــــــــــــنايَ إذا تَبَسَّمـْتِ
تَضيقُ بيَ الحيـــــــــــــــــــــــــــاةُ إذا بها يومــــــــــــــــــــــــــــــــــاً تَبَــرَّمتِ
فأَســــــــــــــــــــــــــــــعى جاهـداً حتى أُحَقِّقَ مــــــــــــــــــــــــــا تَمَنَّيـــْتِ
هَنــــــــــــــــائي أنتِ فَلْتَهْنَيْ بِدفءِ الْحُـــــــــــــــــــــــــــبِّ مَا عِشْــتِ
فَرُوحَــــــــــــانَا قدِ ائْتَلَفا كَمِثْلِ الْأَرْضِ وَالنَّــــــــــــــــــــــــــبْـتِ
فَيَا أَمَلـــــي وَيَا سَكَنـــــِي وَ يَا أُنْسِـي ومُلْهِــــــــمَتِي
يَطيبُ العَيْشُ مَهْمَا ضَـاقَتِ الأيامُ إِنْ طِبْتِ

Aku mencintamu sebagaimana kamu mencinta,
Aku mencintaimu bagaimanapun keadaanmu,
Apapun yang terjadi dan kapanpun, Engkaulah cintaku,
Duhai istriku, Engkaulah kekasihku,

Engkau istriku yang halal,
Aku tidak peduli celaan orang, Kita satu tujuan untuk selamanya,
Engkau sirami cinta dalam hatiku dengan indahnya perangaimu,
Kebahagiaanku lenyap ketika kamu menghilang lenyap,
Hidupku menjadikan terang ketika kamu disana,
Hari-hariku berat sampai aku kembali ke rumah menjumpaimu,
Maka lenyaplah keletihan ketika kamu senyum,

Jika suatu saat hidupmu menjadi sedih, maka aku akan berusaha keras,
Sampai benar-benar mendapatkan apa yang engkau inginkan,
Engkau kebahagiaanku, tanamkanlah kebahaiaan selamanya,
Jiwa kita menyatu bagaikan bumi dan tetumbuhan,
Duhai harapanku, duhai ketenanganku, duhai kedamaianku, duhai ilhamku,
Indahnya hidup ini walaupun hari-hariku berat asalkan engkau bahagia,


ENGLISH VERSION
I love you the way you are
I love you the way you were
No matter what did or will happen
You are My Darling and will be
My Wife,You are My Darling and will be

My Wife, You're my rightful wife, I don’t fear sin.
I don’t care about those who don't like to reproach and irritate me,
It is our destiny to be Together eternally
In my heart you instilled love With grace and good deeds
Happiness vanishes when you disappear
Life brightens when you're there,
My day is hard Until you return home
Sadness disappears When you smile

Life turns black When you're upset
So I work hard To make your wish come true
You're my happiness. May you be happy forever.
Our souls are united Like soil and plants
You're my hope, my peace my good company and inspiration
Life is good, no matter how hard it is, When you're fine
You're my hope, my peace my good company and inspiration
Life is good, no matter how hard it is, When you're fine


Sumber: Dibagikan ulang dari SINI & SINI

next previous home