Kamis, 08 September 2016

'Nikah' : Alih Status

Bismillahirrahmaanirrahiim,

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ .
Artinya : “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar Ruum : 21)

Setelah sekian lama vakum, akhirnya pengen nambah tulisan juga di blog ini. Kali ini pengen cerita singkat aja tentang alih status dari yang dulunya lajang menjadi "married" a.k.a. (red-alias) menikah.

Awal tahun 2016, alhamdulillah status berubah menjadi MENIKAH. Alhamdulillaah ya Rabb, Engkau rangkul kami dalam ikatan halal bernama NIKAH. Bersama dia wanita yang telah lama aku kenal. Wanita yang pada pandangan pertama hatiku bergumam, “Subhaanallah, ya Rabb, kelihatannya dia cocok banget jadi isteriku”.

Tanya kenapa?, jawabannya “Gak tahu”. Chemistry-nya dapat, dan Grrrrrrr-nya berantakan (bahasa stand up comedy sekarang). Hehe. Ya mengalir begitu saja.

Segalanya pun berubah. Status ini memang menghendaki perubahan yang signifikan. Telah ada teman hampir dalam 24 jam setiap harinya. Dari bangun tidur sampai mau tidur kembali. Semua dilewati berdua, berembuk, berencana, memutuskan, sampai dengan berantem dan merajuknya juga. (hehe)

Keromantisan dan keharmonisan berumah tangga pun kami rangkai berdua. Kalau kebanyakan pasangan buat foto prewedding, kami justru buat foto post-wedding di Hutan Bakau-Sei Rampah, persis sehari setelah acara ijab qabul di rumah sepupu abangda terhormat Hasan Hrp di Laut Dendang-Medan.


 Acara ijab qabul-nya pun punya cerita sendiri. Untuk meminta izin acara digelar di rumah itu, kami berdua memberanikan diri datang dan berdiskusi dengan abang sepupu dan kakak (isteri dari abang sepupu) serta ucok-ucokku di sana. Ini perlu agar keluargaku dan keluarga calon isteriku tidak perlu menempuh perjalanan jauh Padang Lawas-Subulussalam yang kalau dihitung-hitung bisa 2 hari 2 malam perjalan, dan tentunya karena hasil kesepakatan antara keluarga juga.

Setelah ACC, hari H pun tiba. Dan alhamdulillah moment berucap ijab qabul pun dapat dilakukan hanya dengan sekali saja. Terasa ada gemuruh besar di dalam dada pasca mengucapkan janji itu. Sambil berdoa, mata pun mulai berlinang, hampir menitikkan air mata. Senyum dan tangis dipendam di dalam saja, karena agak malu (ja’im) dilihat keluarga, saksi-saksi dan orang yang berhadir saat itu.

Sayang sungguh sayang, moment tersebut tidak terekam video karena terlupa. Bahkan rekaman video ponsel pun tidak ada sama sekali. Kalau teringat itu, kami berdua sering saling bertatapan sambil meyakinkan satu sama lain bahwa SEBENAR-BENAR BUKTI DAN SAKSI IKATAN HALAL KITA ADALAH ALLAH SWT.


Yaa Rahmaan, Yaa Rahiim,
Pemilik segala kemuliaan, pemilik segala pujian yang tak ternilai, Kami makhluk dha’if membuat janji di hadapan-Mu, beribadah dengan saling mencintai karena-Mu. Bantulah mengeratkan jalinan yang terikat ini, memberkatinya dan mempertahankan-nya hingga jasad tak ber-ruh lagi. Amiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

next previous home