Selasa, 28 Februari 2017

Sajak 'Rindu'

Walau beribu hari dilalui
Selalu saja tersimpan bayangan di hati
Walau dihalau pergi
Selalu saja kembali

Ah, rindu ini harusnya tak pantas bersemi
Belum ... sungguh belum waktunya hadir disini
Tetapi apalah daya kami untuk mengusir pergi
Yang terlanjur ada di dalam hati

Walau beribu hari dilalui
Selalu saja tersimpan keinginan di diri
Walau banyak yang mencabari
Selalu saja datang menyambangi

Sadarlah ... disinilah bentuk pengendalian diri
Sadarlah ... disinilah kepekaan diri diuji
Memilih menjalani atau pergi
Memilih bahagia atau tetap begini

*Puisi Gubahan Mbak Chaca

Rabu, 01 Februari 2017

Aku Mencintamu Sebagaimana Kamu Mencinta

I love you the way you are, I love you the way you were

Nemu lagu arab lawas "Zaujati" yang bait-bait lagunya berisi kekaguman dan pujian untuk istri tercinta. Musik dan lagunya begitu syahdu, ketukan musik dalam tempo lambat dan suara vokalis (Ahmed Bukhatir) yang merdu menambah kesejukan tersendiri dalam lagu ini. Ditambah isi bait lagunya yang ringan tapi sangat dalam bisa kiranya mewakili kata-kata hati untuk si ‘kekasih halal’.

Silakan nikmati dan resapi :


LIRIK DAN TERJEMAHANNYA

أُحِبُّـكِ مثلما أنـتِ أُحِبـُّكِ كيـفما كُنــْت
ومهما كانَ مهمــــا صارَ أنتِ حبــــــــيـبتي أنتِ
حَلالـــــــــي أَنتِ لا أَخْشى عَذولاً هَمّـُــــــــــــــــــه مَقْتِي
لقدْ أَذِنَ الزمــــــــــــــــــــــانُ لنا بِوَصْلٍ غَــــــــــــــــــيْرِ منْبَتِّ
سَقَيْـــتِ الحُــــــــــــــــــبَّ في قلبـي بِحُســـــــــــــــــْن الفعلِ والسَّمْتِ
يغيبُ السَّعـــــــــــــــــــْدُ إن غِبْتِ ويَصْـــــــــــــــــــــــــفو العَيْشُ إِنْ جِئْتِ
نهاري كــــــــــــــــــــــــادِحٌ حتى إذا ما عُـــــــــــــــــــــــــــــــــــــــدْتُ للبـيتِ
لَقِيتُكِ فانْجَـــــــــــــــــــــــــــــلى عني ضَــــــــــــــــــــــــــــــــــنايَ إذا تَبَسَّمـْتِ
تَضيقُ بيَ الحيـــــــــــــــــــــــــــاةُ إذا بها يومــــــــــــــــــــــــــــــــــاً تَبَــرَّمتِ
فأَســــــــــــــــــــــــــــــعى جاهـداً حتى أُحَقِّقَ مــــــــــــــــــــــــــا تَمَنَّيـــْتِ
هَنــــــــــــــــائي أنتِ فَلْتَهْنَيْ بِدفءِ الْحُـــــــــــــــــــــــــــبِّ مَا عِشْــتِ
فَرُوحَــــــــــــانَا قدِ ائْتَلَفا كَمِثْلِ الْأَرْضِ وَالنَّــــــــــــــــــــــــــبْـتِ
فَيَا أَمَلـــــي وَيَا سَكَنـــــِي وَ يَا أُنْسِـي ومُلْهِــــــــمَتِي
يَطيبُ العَيْشُ مَهْمَا ضَـاقَتِ الأيامُ إِنْ طِبْتِ

Aku mencintamu sebagaimana kamu mencinta,
Aku mencintaimu bagaimanapun keadaanmu,
Apapun yang terjadi dan kapanpun, Engkaulah cintaku,
Duhai istriku, Engkaulah kekasihku,

Engkau istriku yang halal,
Aku tidak peduli celaan orang, Kita satu tujuan untuk selamanya,
Engkau sirami cinta dalam hatiku dengan indahnya perangaimu,
Kebahagiaanku lenyap ketika kamu menghilang lenyap,
Hidupku menjadikan terang ketika kamu disana,
Hari-hariku berat sampai aku kembali ke rumah menjumpaimu,
Maka lenyaplah keletihan ketika kamu senyum,

Jika suatu saat hidupmu menjadi sedih, maka aku akan berusaha keras,
Sampai benar-benar mendapatkan apa yang engkau inginkan,
Engkau kebahagiaanku, tanamkanlah kebahaiaan selamanya,
Jiwa kita menyatu bagaikan bumi dan tetumbuhan,
Duhai harapanku, duhai ketenanganku, duhai kedamaianku, duhai ilhamku,
Indahnya hidup ini walaupun hari-hariku berat asalkan engkau bahagia,


ENGLISH VERSION
I love you the way you are
I love you the way you were
No matter what did or will happen
You are My Darling and will be
My Wife,You are My Darling and will be

My Wife, You're my rightful wife, I don’t fear sin.
I don’t care about those who don't like to reproach and irritate me,
It is our destiny to be Together eternally
In my heart you instilled love With grace and good deeds
Happiness vanishes when you disappear
Life brightens when you're there,
My day is hard Until you return home
Sadness disappears When you smile

Life turns black When you're upset
So I work hard To make your wish come true
You're my happiness. May you be happy forever.
Our souls are united Like soil and plants
You're my hope, my peace my good company and inspiration
Life is good, no matter how hard it is, When you're fine
You're my hope, my peace my good company and inspiration
Life is good, no matter how hard it is, When you're fine


Sumber: Dibagikan ulang dari SINI & SINI

Senin, 23 Januari 2017

Mereka Yang Berdakwah Tanpa Label

“..rombongan itu hanya mencari arti terdalam HIDAYAH melalui pengorbanan dari mesjid ke mesjid..”

Tumbuh berkembang dari usia anak, remaja dan beranjak dewasa di lingkungan madrasah selama 6 tahun tidak membuatku lantas fanatik dengan pemahaman yang diajarkan guru (aku menyebutnya ‘asatidz’) kala itu.

Memang tampak jelas di mataku setidaknya 2-3 guru asatidz begitu semangat, menggelora, berapi-api menyebut gerakan/organisasi ‘M’ adalah paling baik, terstruktur dengan baik dan memiliki lembaga kajian yang sangat mumpuni di bidangnya. Saat berusia 18 kala itu, aku bisa memahami pernyataan asatidz didasari posisinya sebagai kader organisasi dan sekaligus pendidik di mata pelajaran mengenai profil organisasi M. Tentunya sangat baku, kaku, atau orang jawa bilang saklek  namun terkesan tegas dan mantap dengan pilihan organisasi yang menaunginya hingga sekarang.

Hingga saatnya aku pun dapat menamatkan pendidikan dengan predikat (alhamdulillah) terbaik saat itu dan lulus bebas test (PMDK) ke PTN ternama di Sumatera Utara. Dari sini lah aku mulai mengenal gerakan ini, mereka pindah dari mesjid satu ke mesjid lain. Memakai serban (sorban), berbaju gamis seperti orang arab atau india, berjanggut lebat, memakai celana di atas mata kaki dan pada beberapa kesempatan terlihat menenteng alat masak (kompor) saat berpindah-pindah tersebut. Aneh, unik, dan penasaran pun menghinggapi pikiranku. Buat apa sih seperti itu?, mau ngapain mereka?, kok segitunya kali ya?, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang mengusik keingin-tahuanku.

Bahkan dulu saat Aliyah (SMA) dengan agak sombong, sempat terpikir olehku ingin berargumen dengan mereka, mendebat mereka agar tahu titik terang dan menyadarkan mereka. Tapi dasar aku, beraninya cuma dalam hati aja. Akhirnya saat itu aku coba cuek aja, EGP dan menganggap santai aja.

Tinggal ngekos di Padang Bulan, Medan saat kuliah S1 dulu ternyata membuatku kembali bertemu dengan beberapa orang yang aktif dalam gerakan ini. Bahkan yang tidak kusangka, abang kos sebelumnya (yang kamarnya aku tempati) ternyata telah lama berkecimpung dalam gerakan ini. Alhasil aku tanya sana tanya sini sama si Abang, dan dengan gaya penuturan yang santai penuh senyum dan gurauan, aku merasa asyik dan enjoy dengan semua penjelasannya. Sedikit pun tidak ada was-was dan curiga dalam diri.

Akhirnya mulai saat itu aku coba melibatkan diri sekedarnya dalam gerakan ini. Aku tanggalkan (lebih tepatnya ‘sembunyikan’) latar belakangku sebagai murid madrasah, dan membaur dengan mereka. Mengamati dan menganalisis kajian, pemahaman dan tindak tanduk aliran gerakan ini dari dalam, ya dekat dengan mereka. Banyak sebenarnya yang enggan bergabung dengan mereka-mereka ini, beberapa bahkan mencemooh sampai memfitnah. Dari yang aku dengar mereka menyebut ini gerakan bid’ah (karena tidak pernah diajarkan Rasul dan Nabi), tegaan (karena meninggalkan keluarga), lupa dunia (karena isi kajian hampir seluruhnya dogma kehidupan akhirat), dan lain sebagainya. Namun dalam hati keci aku bergumam, “Kalau memang itu benar, kenapa meraka-mereka ini masih eksis?, kenapa masih ada sampai sekarang?”.

Namun setelah berinteraksi langsung, mengikuti kajian dan ikut belajar agama dengan mereka dari mesjid ke mesjid, akhirnya aku bisa sedikit memahami. Pertama, aku paling tidak bisa menyebut ini bid’ah itu tidak atau ini sesat itu sunnah karena secara aku masih sangat dha’if (lemah) dalam pemahaman seperti itu. Dari yang aku pelajari dari mereka, gerakan ini adalah buah pikir sebagai manifestasi dari kekhawatiran dan risau para ulama-ulama akan hilangnya HIDAYAH dari bumi Allah, yang mana itu merupakan petanda akan segera datangnya musibah yang dahsyat. Namun dengan tanda kutip, bergabung dengan gerakan ini pasti kita dapat hidayah, belum tentu.

Gerakan ini kalau bisa aku sebut sebagai cara, metode atau tarekat yang dilalui agar diri kita pantas diberi hidayah dari Alah SWT. Ingat, diri kita sendiri. Kita menyeru kebaikan atau mengajak orang lain ke mesjid, bukan berarti kita telah mendapat Hidayah dan orang lain tidak. Hidayah itu 100% adalah otoritas Allah SWT, kewenangan-Nya semata. Saat mengajak kepada kebaikan itu sebenarnya kita dilatih mengajak diri sendiri, mendisiplinkan diri dan menata hati agar terbiasa dalam kebaikan. Agar kita setidaknya layak dan qualified diberi pertolongan oleh Allah, keberkahan serta hidayah-Nya. Essensi gerakan ini adalah usaha untuk mendapatkan itu, bukan untuk mengajak orang sebanyak-banyaknya ke mesjid.

Kedua, tega meninggalkan keluarga  saat khuruj fii sabilillah (keluar di jalan Allah). Ini adalah bagian dari pengorbanan yang harus ditempuh dengan melepaskan diri dari ketergantungan pada makhluk dan materi. Meninggalkan keluarga tidak serta merta begitu saja. Sebelumnya seorang karkun (sebutan orang yang aktif dalam gerakan ini) yang telah berkeluarga harus menafkahi secara lahir dan bathin, mendapatkan ridha keluarga dan menabung serta menyiapkan bekal untuk beberapa hari/minggu/bulan ke depan. Untuk mendapatkan izin dan ridha keluarga tidak pula dilakukan dengan memaksa.



Jauh sebelum ditinggalkan, keluarga telah disiapkan dengan pemahaman agama yang baik, berperilaku sehari-hari mencontoh kehidupan di masa Rasul dan Sahabat Nabi, sabar dan lainnya. Sehingga ketika bekal lahir dan bathin keluarga telah disiapkan dengan baik, insyaAllah tidak akan dilanda kekhawatiran diantara keduanya. Namun kembali, karkun dan keluarganya telah memahami bahwa sebaik-sebaik bekal adalah Takwa dan Tawakkal kepada Allah. Terkadang aku juga merasa dilema dengan hal ini, tapi sering pula aku bertanya pada diri sendiri, “Mereka saja tidak khawatir meninggalkan keluarganya, Emang aku ini siapa kok mengkhawatirkan keluarga mereka?”. “Ahh...mereka ternyata punya Allah yang dekat dengan mereka”. Sudah kah aku berkorban sesuatu agar dekat dengan-Nya?”.

Lalu yang terakhir, lupa dunia. Yang ini memang dikhawatirkan sekali melanda calon-calon karkun baru yang begitu semangat mempelajari agama dalam gerakan (jama’ah) ini. Para karkun senior sendiri mengakui tidak sedikit para karkun akhirnya meninggalkan kuliah, meninggalkan keluarga tanpa pamit, meninggalkan kerja, dan meninggalkan hal-hal lain terkait aspek duniawi. Bak seorang sufi yang hati dan pikirannya berisi Allah SWT, akhirnya menjadi sangat zuhud (sangat sederhana), melepas hampir semua ketergantungannya pada materi dan makhluk, berpakaian dan makan seadanya, yang setiap dia menoleh ke setiap tempat namun yang terlihat adalah kebesaran Allah SWT, bahkan ada yang tidak menikah. Kalau sudah begini, kebanyakan masyarakat normal seperti kita (yang menyombongkan pemahaman agamanya yang tidak seberapa), memandang mereka-mereka setengah gila, tegaan, kurang waras dan sebagainya.

Dari yang aku pahami sampai sekarang, Rasullullah Muhammad SAW mengajarkan umatnya untuk taat pada Allah SWT namun tidak melupakan kehidupan dunia. Segala fasilitas duniawi boleh dinikmati sekedarnya dan digunakan untuk meraih ridha Allah SWT. Bahkan di dalam Qur’an sendiri ada potongan ayat yang mengingatkan hal yang sama, “Wa laa tansa nashiibaka minad dunya..”. Secara riwayat, ayat ini lebih ditujukan kepada mereka yang hari-harinya dihabiskan beribadah pada Allah. Mereka yang mengerjakan shalat sunat beratus-ratus raka’at, yang berpuasa sunat hampir setiap hari, yang bersedekah hingga hampir seluruh hartanya. Lalu apakah ayat ini layak juga untuk kita yang biasa-biasa ini. Ya, berapa shalat sunat yang kita kerjakan tiap harinya?, seberapa hebat puasa kita?, seberapa banyak sedekah kita?, seberapa banyak waktu kita gunakan memikirkan akhirat?, berapa...berapa???”.

Rutinitas gerakan (jama’ah) ini dari mesjid ke mesjid tiada lain adalah sindirian sekaligus teguran pada kita untuk kembali menghitung berapa banyak waktu hidup yang telah kita luangkan untuk agama ini?, untuk sesuatu yang kita imani?, untuk sesuatu yang dibawa sampai mati dan mempertanggung-jawabkannya?. Bohong rasanya kalau kita berkata sudah Banyak. Hitung aja, dalam sehari punya 24 jam. Untuk 5 shalat wajib paling habis 1 jam, baca qur’an 1 jam, total 2 jam. Atau katakan lah maksimalnya 5 jam per hari kita bisa meluangkan (mengorbankan) waktu untuk TOTAL beribadah pada Allah. Sedikit sekali bukan?. 19 jam nya kemana?, pasti mikiran dunia kan?. Itu pun kalau TOTAL khusyu’ ibadah ya, karena pengalamanku sendiri saat shalat aja kita masih suka kepikiran hal-hal lain selain Allah, berarti kita korupsi waktu juga.

Sekali lagi, sudah kah kita Total?. Maka pantas kah kita ngata-ngatain, menjelek-jelekkan mereka yang mencoba untuk Total kepada Allah. Mereka juga toh gak selamanya meninggalkan keluarga, mereka pasti balik. Mereka bawa pulang pelajaran, nasehat dan segudang kisah kebesaran Allah yang mereka rasakan saat di rumah nanti. Mereka kembali bekerja, menabung, belajar agama lagi, dan kembali begitu, pilihan siklus hidup mereka dalam menjaga hidayah agar tetap menyala dalam sanubari mereka.

Lalu aku pun bertanya kepada kita, apa pengorbanan, apa usaha kita untuk tetap menjaga, maintenance, dan charge iman kita yang suka naik turun ini?.

Akhirnya, aku pun ingin menyampaikan. Kita belum pantas untuk menghakimi dan melabeli mereka karena kita sebenarnya belum melakukan apa-apa (atau ada sedikit) untuk menjaga keimanan kita pada Allah SWT. Kita boleh saja menempuh cara lain untuk menambah ketakwaan dan ketaatan kita, namun tidak untuk menjelekkan mereka yang jelas sudah berkorban untuk sesuatu yang mereka yakini, dan itu semata-mata untuk memperbaiki diri mereka sendiri. So, sebagaimana yang diketahui bahwa tidak ada paksaan dalam agama, namun jangan lupa bahwa mengolok-olok (ngata-ngatain) tidak pula diajarkan dalam agama.

"BERSIKAP LAH SEWAJARNYA, DI TENGAH-TENGAH, NAMUN JANGAN ABU-ABU / TIDAK JELAS ATAU BAHKAN LIBERAL / BEBAS".


Salah satu Foto Jama'ah Masturah (suami -istri) Khuruj fii sabilillah
untuk berdakwah di daerah Jayapura.

Jumat, 20 Januari 2017

Wisata di Kota Kuala Lumpur **

>> Perjalanan sebelumnya bisa di cek DI SINI.

Kemudian hari pun berganti. Keesokan harinya kami mengunjungi Planetarium Negara dan Orchid Park, yang kedua objek wisata ini sebenarnya tidak berjauhan dengan Dataran Merdeka, bahkan bisa kami tempuh dengan berjalan kaki. Planetarium ini merupakan museum kebanggan negara Malaysia yang berisi dunia antariksa dan sepak terjang perjalanan astronot mereka ke luar angkasa. Pas browsing-browsing di internet, bangunan Planetarium menurut saya lebih mirip mesjid dengan bagian tangga dan atap (kayak kubah) berwarna biru. Tapi bener, emang khas dan cukup keren, meski di hari itu tidak banyak orang yang berkunjung.

Setelah bertnaya ke petugas dan ternyata free ticket, kami pun bergegas masuk dan benar saja, pemandangan mengenai ke-antariksa-an terpampang di setiap sisi ruangan. Planet-planet, tata surya, pakaian astronot, bagian pesawat luar angkasa, dan sebagainya mengisi pandangan mata setiap menoleh. Lucu nya saat itu ada seorang turis Bule yang kepo-in alat irama detak jantung yang cukup unik. Jadi dengan megang detektor berbentuk tangkai besi, suara detak jantung kita bisa terdengar seisi ruangan. Yup benar banget, setelah Bule itu pergi, giliran kami yang kepo-in itu barang. Dug..dug..dug..dugg.. suara jantung jelas terdengar dan kami senyum-senyum sendiri. Setelah mengitari dalam ruangan, kami kemudian menuju menara (tower) Planetarium. Di situ ada teropong yang bisa digunakan untuk melihat bangunan pencakar langit di kota KL dari kejauhan. Dan lumayan, pemandangan dari atas tower punya view tersendiri yang tentunya berbeda dengan yang lain.


Sehabis shalat dzuhur di Planetarium Negara, kami kemudian melangkahkan kaki ke Taman Orchid Park. Dari namanya saja sudah jelas banget taman ini ditumbuhi beragam jenis anggrek, dan tentu saja beraneka ragam warna. Masuk kawasan ini rasa-rasanya seperti mau ambil foto prewedding. Ke mana-mana angle-nya pasti bunga berseri. Untuk cewek pasti betah banget di sini. Pikir punya pikir dan setelah dihitung-hitung kami masih bisa dibilang pengantin baru, jadi deh ambil momen-momen postwedding di taman ini. jeprettt...jeprettt...


Sore menjelang malam, kami sempatkan mendatangi beberapa objek wisata mesjid di kota Kuala Lumpur. Seperti Mesjid Negara Malaysia, Mesjid Jamek, Mesjid India, Masjid Jamek Kampung Bharu. Sewaktu berkunjung ke Kampung Bharu, kami sempatkan berwisata kuliner di salah satu rumah makan yang hits banget di kawasan tersebut, ‘Restoran Nasi Lemak Antarbangsa’. Menu makanan jelas terpampang di dinding beserta jumlah harga yang bisa dibilang bersahabat. 


Dan benar saja, setelah kami cicip, Alhamdulillah makananya lezat dan familiar banget dengan lidah kita orang Indonesia (terutama kami yang dari Medan). Bahkan saat itu ada Bule dan seorang teman asia-nya juga makan malam bareng di sini. Selesai  makan, kami pun bergegas kembali ke hotel. Saat di jalan kami sempatkan singgah beli cemilan Pulut Mangga. Sayang banget belinya cuma 1 bungkus. Soalnya setelah sampai di hotel dan diicip-icip, rasanya enak dan bikin nagih.


Dan terakhir, shopping shopping shopping. Ya, sekalian beli oleh-oleh kami pun mendatangi pasar Petaling Street, China Town dan Central Market. Ramai banget, soalnya harga aneka barang dan merchandise di pasar ini bisa miring. Tapi tetap saja tergantung kemampuan negoisasi dan tawar menawar kita. Di sini kami ketemu segerombolan muda-mudi asal Indonesia yang kelihatannya banyak memborong oleh-oleh untuk dibawa pulang. Baju mereka sama, bertuliskan GoTravindo. Setelah cari tahu ternyata itu semacam educational travel program, dimana akan diberikan pelayanan program untuk pelajar di Indonesia maupun Internasional sehingga dapat belajar ke berbagai destinasi Dunia. Aysik ya...


Besoknya kami pun menuju bandara KLIA dengan Bus. Untungnya berangkat cepat, soalnya di Imigrasi bandara panjang banget antriannya, hampir 1 jam. Sempat diberitahukan jadwal pesawat kami delay 1 jam, dan setelah menunggu kami pun bisa terbang dan balik ke tanah air tumpah darah Indonesia (Kualanamu International Airport -KNO-, Deli Serdang) dengan selamat dan sehat. Alhamdulillah. Alhamdulillah dan Alhamdulillah. Kami menuntaskan trip pertama ke luar negeri dengan lancar. Dan pengalaman ini sangat amat berguna untuk rencana trip luar negeri kami berikutnya. Amin.

Wisata di Kota Kuala Lumpur *

Setelah check-in hotel, mandi dan ganti baju, tujuan pertama yang ingin kami datangi tiada lain dan tiada bukan adalah landmark paling terkenal yaitu Menara Twin Towers Petronas. Awalnya kami mengira jaraknya dekat bila ditempuh jalan kaki dari kawasan Bukit Bintang, tetapi setelah ditelusuri ternyata jauh juga, pegel. Memakan waktu sekitar 30 menit.

Ya, kawasan Bukit Bintang merupakan lokasi paling strategis yang kami rasakan, soalnya dekat dengan akses transportasi umum, jajanan kuliner, Mall berkelas, dan beberapa Mini market di sekitarnya. Karena lokasinya yang super padat dan termasuk kawasan wisata utama di KL, di daerah ini terdapat Tourist Information Counter untuk membantu para wisatawan bertanya lebih jelas tentang objek wisata dan transportasi di KL.


Dan setelah cari tahu sana-sini, ehhh ternyata tersedia Bus GO-KL gratis yang bisa dimanfaatin para turis untuk mengelilingi pusat kota KL, termasuk ke Menara Twin Petronas ini. So, pada hari berikutnya kami ketagihan menggunakan Bus ini sebagai transportasi utama selama di sana. Saking kemaro’ nya (kata orang Medan), kami mengabadikan moment di lokasi Twin Towers ini sesering mungkin. Ini beberapa jepretan-nya:


Berikutnya, landmark kedua yang kami datangi adalah Batu Caves. Katanya kalau belum ke sini ya belum sah ke KL nya. Dulu karena kudet (kurang update) kronis yang saya derita, mengira Objek wisata ini berada di Thailand. (Padahal kan di Thailand itu yang terkenal ya kuil-kuilnya seperti Emerald Budha, Wat Pho dan Grand Palace). Maka perjalanan menuju Batu Caves ini kami tempuh dengan menggunakan Commuter yang kebetulan penumpangnya tidak terlalu ramai, bisa dibilang sepi.

Sebelum berhenti di station, terlihat dari kejauhan patung dewa kuning keemasan yang paling mencolok di tempat wisata ini, besar sekali. Namanya Patung Dewa Murugan, merupakan patung Dewa tertinggi di dunia dan didatangkan dari negera tetangga Thailand. Kami pun kemudian masuk gerbang (free ticket) dan melihat ternyata sudah ramai sekali Turis di sekitaran lokasi, ditambah burung merpati yang jumlahnya ratusan terbang ke sana sini. Tidak mau melewatkan view tempat ini, kami pun mengabadikan foto dengan background patung dewa raksasa tersebut. Kemudian menaiki tangga yang cukup melelahkan (butuh 2-3 jeda hingga akhirnya sampai ke dalam Gua). 
  


Di dalam Gua nya sendiri setidaknya ada 3 ruang yang cukup luas, ketiganya pun kami telusuri. Uniknya, di ruangan ketiga (paling ujung) kami bertemu dan beramah tamah dengan rombongan keluarga turis asal Bangladesh. Mereka meminta saya mengambil foto, dan sebaliknya mereka menawarkan diri mengambil foto kami. Kami juga sempat kan berfoto bareng di depan kuil di sekitar situ.

Yang tidak disangka, mereka juga menawarkan makanan khas Bangladesh dan kemudian kami cicipi sekedarnya. Jujur, rasanya kurang nyambung di lidah kami. Kami ucapkan terima kasih dan meninggalkan mereka sambil menyimpan makanan yang diberi itu dalam tas. Meski sempat menyicipi, kami berdua tetap ragu karena makanan ini karena tergolong syubhat (halal gak, haram juga gak, di tengah-tengah?).

Selepas dari Batu Caves, kami menuju Dataran Merdeka. Di sini kami sempatkan berfoto dengan I LOVE KL yang sangat iconik (karena hampir setiap ke KL, teman FB yang saya kenal selalu upload foto dengan icon ini). Lokasi nya persis di depan Kuala Lumpur City Gallery. Karena kebetulan agak sepi, lebih dari 50 jepretan bisa kami ambil di depan icon ini.

Setelah itu kami berjalan ke tengah lapangan hijau dan terlihat beberapa turis duduk santai sambil menikmati dan mengamati gedung Sultan Abdul Samad Building, bangunan klasik bergaya Eropa di seberang jalan. Pastinya deretan gedung ini sangat layak dijadiin background foto jika berkunjung ke lokasi Dataran Merdeka. Sangat rapi, elegan dan indah, apalagi saat di lokasi hari sudah sore menjelang malam. Dengan hidup nya lampu di dinding-dinding gedung serasa menambah nuansa yang sejuk, romantis dan intim. Alhasil kami cukup puas dengan moment di tempat ini.



Hari pun berlalu. Besok nya kami berjalan-jalan santai mengunjungi taman kebun raya Perdana Botanical Garden Kuala Lumpur. Di sana kami sempat takjub melihat susunan bunga tersusun dalam lengkungan yang cukup luas (menyerupai piring) disebut Sunken Garden.

Di sana juga ada Lake Garden, danau bersih dengan pemandangan gedung-gedung KL Central. Dan pastinya ada beribu-ribu jenis tanaman, bunga yang tersusun rapi, bersih dan mempesona, yang sangat sayang bila dilewatkan. Bila melihat kawasan ini, sempat teringat saat jalan-jalan ke Taman Simalem Resort, Karo. Beda nya Taman ini tidak berlokasi di daerah perbukitan (bahkan di tengah kota) dan memiliki spot yang lebih luas dibandingkan Taman Simalem resort.

Well, this is it...



>> Baca DI SINI untuk hari berikutnya.
next previous home