Jumat, 03 November 2023

Moderasi Beragama dan Islam Nusantara: Teladan Harmoni Agama di Kawasan Asia Tenggara

Opini oleh:
Rapotan Hasibuan
Peserta PKDP Angkatan II Tahun 2023 | UIN Sumatera Utara Medan

Moderasi Beragama: Pilar Kebangsaan dan Toleransi di Kawasan Asia Tenggara

Kawasan Asia Tenggara adalah rumah bagi lebih dari 650 juta orang yang mewakili berbagai etnis, bahasa, agama, dan budaya. Keberagaman ini adalah harta yang berharga, namun juga memunculkan tantangan dalam mempertahankan harmoni sosial.

Dalam konteks ini, Moderasi Beragama muncul sebagai sebuah konsep kunci yang mencakup komitmen kebangsaan, toleransi, penolakan terhadap kekerasan, dan penghargaan terhadap budaya lokal.

Mari kita menjelajahi lebih dalam konsep ini dan melihat contoh konkret bagaimana Moderasi Beragama diimplementasikan di Kawasan Asia Tenggara, dengan fokus pada prinsip-prinsip Islam Nusantara yang telah dijunjung tinggi dalam kawasan ini.
 
Prinsip-Prinsip Utama Moderasi Beragama

1. Komitmen Kebangsaan
Moderasi Beragama melibatkan kesetiaan kepada negara sebagai prioritas utama. Ini menciptakan kerangka kerja di mana warga negara, terlepas dari agama atau etnisitas mereka, merasa berkewajiban untuk menjaga keharmonisan dan stabilitas negara.

Contoh nyata dari komitmen kebangsaan ini bisa kita lihat di Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika, yang diterjemahkan sebagai "Berbeda-beda namun tetap satu," menjadi semboyan yang merefleksikan semangat persatuan dalam keragaman budaya dan agama di Indonesia.

Indonesia adalah rumah bagi lebih dari 17 ribu pulau dan memiliki lebih dari 300 kelompok etnis dan bahasa yang berbeda. Namun, walaupun perbedaan ini, semangat persatuan dan kesatuan di antara masyarakat Indonesia tetap kuat.

Dalam kaitannya dengan agama, Indonesia memiliki populasi muslim terbesar di dunia, tetapi juga rumah bagi berbagai agama lainnya. Pada saat yang sama, Indonesia mempraktikkan Islam Nusantara, yang menggabungkan nilai-nilai Islam dengan budaya lokal, menghasilkan praktik Islam yang inklusif dan harmonis.

2. Toleransi
Toleransi adalah inti dari Moderasi Beragama. Ini mengacu pada kemampuan individu dan komunitas untuk hidup berdampingan dengan penganut agama atau kepercayaan yang berbeda. Di Malaysia, sebagai contoh, kita melihat berbagai kelompok agama hidup berdampingan dengan relatif damai.

Prinsip "Rukun Negara" di Malaysia menekankan kesetiaan kepada negara dan saling menghormati. Tidak hanya itu, Malaysia telah menjadi tuan rumah untuk banyak konferensi antar-agama dan dialog antaragama, yang mempromosikan pengertian yang lebih baik di antara kelompok-kelompok agama yang berbeda.

Malaysia memiliki sekitar 60 persen penduduk muslim, sementara sekitar 20 persen adalah penganut Buddha, 10 persen adalah penganut Hindu, dan sisanya menganut agama-agama lainnya. Kemampuan kelompok-kelompok ini untuk hidup berdampingan adalah contoh kuat dari bagaimana toleransi bisa menjadi pilar penting bagi keragaman budaya di Asia Tenggara.

3. Anti Kekerasan
Moderasi Beragama menolak segala bentuk kekerasan yang dilakukan atas nama agama. Filipina, sebagai contoh, telah mengalami konflik antara berbagai kelompok etnis dan agama selama beberapa dekade.

Namun, upaya terus dilakukan untuk mencapai perdamaian dan toleransi. Perjanjian damai dengan Moro Islamic Liberation Front bertujuan untuk mengakhiri konflik di wilayah selatan Filipina, menunjukkan komitmen terhadap anti-kekerasan dan dialog.

Selama bertahun-tahun, konflik di Filipina telah mengakibatkan ribuan korban jiwa dan merusak infrastruktur. Namun, banyak pihak, termasuk pemerintah, LSM, dan komunitas lokal, telah bekerja keras untuk mencapai perdamaian. Ini adalah contoh konkret tentang bagaimana penolakan terhadap kekerasan dapat memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas sosial.

4. Menghargai Budaya Lokal
Moderasi Beragama juga mendorong penghargaan terhadap budaya lokal dan adat-istiadat. Di Thailand, masyarakat dari berbagai latar belakang etnis dan agama merayakan festival-festival tradisional bersama-sama. Ini menciptakan ikatan budaya yang kuat di antara mereka dan menguatkan identitas nasional yang inklusif.

Di Thailand, kita melihat perayaan Songkran, yang merupakan perayaan Tahun Baru Thai. Acara ini tidak hanya dirayakan oleh orang Thailand, tetapi juga oleh komunitas etnis minoritas. Ini adalah contoh nyata tentang bagaimana budaya lokal dapat mempersatukan orang-orang dari latar belakang beragam.

Islam Nusantara: Teladan Praktik Moderasi Beragama
Islam Nusantara merupakan konsep Islam yang berkembang di Kawasan Asia Tenggara, terutama di Indonesia, yang menekankan Moderasi Beragama. Konsep ini menggabungkan nilai-nilai Islam dengan budaya lokal, menghasilkan praktik Islam yang lebih inklusif dan harmonis.

Islam Nusantara menekankan pentingnya toleransi antarumat beragama. Di Indonesia, kita melihat ini tercermin dalam berbagai bentuk perayaan bersama, seperti perayaan Idul Fitri bersama dengan umat Hindu dan Kristen.

Dalam praktiknya, Islam Nusantara mendorong pendekatan yang moderat terhadap isu-isu keagamaan. Ini berarti menolak ekstremisme dan kekerasan dalam nama agama. Dialog antarumat beragama dipromosikan untuk mencapai pemahaman yang lebih baik satu sama lain.
 
Contoh Praktik Islam Nusantara
Dalam berbagai daerah di Indonesia, praktik Islam yang moderat dan inklusif berkembang. Masyarakat Muslim aktif terlibat dalam kegiatan lintas agama dan budaya. Sebagai contoh, di Kota Yogyakarta, ada upacara bersama yang melibatkan umat Islam dan umat Hindu yang dikenal sebagai "Pawai Bersama."

Pada perayaan tersebut, umat Hindu dan umat Islam berpartisipasi dalam pawai yang merayakan kedekatan antarumat beragama. Mereka berjalan bersama di jalan-jalan kota sambil membawa patung-patung Dewa Hindu dan simbol-simbol Islam, yang mencerminkan semangat harmoni agama yang kuat.

Selain itu, di Aceh, provinsi yang sebagian besar penduduknya beragama Islam, ada semangat untuk melestarikan budaya lokal dan menjaga toleransi antarumat beragama. Budaya Aceh yang kaya dipertahankan dan dihormati oleh seluruh komunitas, sehingga menciptakan lingkungan yang harmonis.

Pemberlakuan syariat Islam di Aceh bukanlah hambatan bagi upaya menjaga keragaman budaya. Sebaliknya, ini menjadi contoh tentang bagaimana agama dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat tanpa mengecualikan atau memarginalkan kelompok lain.
 
Studi Moderasi Beragama
Ditemukan sejumlah studi yang dapat membantu memahami lebih jauh terkait Moderasi beragama di kawasan Asia Tenggara. 

Penelitian Bouma (2010), misalnya, menekankan keragaman identitas dan ekspresi keagamaan di kawasan Asia Tenggara, dengan Buddha, Kristen, dan Islam yang dominan namun berada dalam konteks multi-agama.

Marshall (2013) membahas dinamisme institusi dan praktik keagamaan, yang dibentuk oleh urbanisasi, migrasi, dan politik, serta menyoroti peran gerakan dan pemimpin keagamaan dalam membentuk sejarah kawasan.

Reid (2016) mengeksplorasi paradoks kepatuhan beragama formal yang tampak kurang beragam di Asia Tenggara, sekaligus merayakan tradisi toleransi beragama di kawasan ini dan potensi menjaga keseimbangan melalui tradisi lokal yang ada.

Ropi (2012) menekankan pentingnya mengatur agama di wilayah yang beragam seperti Asia Tenggara untuk menjamin keharmonisan dan persatuan sosial.
Penelitian-penelitian tersebut secara kolektif memberikan wawasan mengenai keragaman agama, perubahan sikap negara, dan pentingnya praktik moderasi beragama dalam menjaga keharmonisan sosial di kawasan Asia Tenggara.
 
Kesimpulan
Moderasi Beragama adalah konsep penting di Kawasan Asia Tenggara, di mana keberagaman agama dan budaya adalah norma. Dalam upaya menjaga perdamaian, harmoni, dan kesatuan, komitmen kebangsaan, toleransi, penolakan terhadap kekerasan, dan penghargaan terhadap budaya lokal sangat penting. Islam Nusantara, dengan pendekatan inklusifnya terhadap Islam, adalah contoh nyata tentang bagaimana konsep ini diterapkan dalam praktik.

Semua pihak, termasuk pemerintah, lembaga agama, dan masyarakat, memiliki peran penting dalam mempromosikan Moderasi Beragama di Kawasan Asia Tenggara. Dengan menjadikan Moderasi Beragama sebagai fondasi untuk membangun masyarakat yang lebih harmonis, kita dapat menciptakan masa depan yang lebih inklusif dan damai di Kawasan Asia Tenggara. Semangat Moderasi Beragama, bersama dengan Islam Nusantara, akan terus menjadi landasan bagi keragaman yang kita nikmati di wilayah ini.

Dalam menghadapi tantangan-tantangan global seperti ekstremisme, terorisme, dan perpecahan sosial, kawasan Asia Tenggara dapat berfungsi sebagai contoh bagi dunia dalam mempromosikan Moderasi Beragama. Prinsip-prinsip ini, seperti komitmen kebangsaan, toleransi, penolakan terhadap kekerasan, dan penghargaan terhadap budaya lokal, bukan hanya relevan untuk Asia Tenggara, tetapi juga untuk seluruh dunia.

Kita dapat belajar dari pendekatan yang telah diterapkan di kawasan ini dan menerapkannya di tempat-tempat lain yang juga menghadapi tantangan serupa.

Dengan menerapkan Moderasi Beragama, kita dapat membangun dunia yang lebih damai dan inklusif di mana setiap orang, terlepas dari agama, etnisitas, atau latar belakang budaya, dapat hidup bersama dalam harmoni. Itulah harapan dan tantangan bagi kita semua untuk terus menjalani perjalanan ke masa depan yang lebih baik.

Selasa, 10 September 2019

Sedekah yang Terbungkus Dengan Harga Diri

Aku kandaskan kesombonganku setelah melihat video viral di timeline FB-ku. Merinding dan miris rasanya diri ini dipenuhi kesombongan. Sementara dia dengan hidupnya yang begitu, berpikir jauh merencanakan tabungan masa depannya. Ampuni hamba yang sombong ini ya Rabb..!




Wahai orang merasa kaya belajarlah dari mereka, #Kedermawanan Yang Tertukar.

Seorang wanita bertanya pada penjual telur yg sudah tua, "Berapa harga telurnya?". Penjual telur menjawab, "Satu butir harganya Rp 2.500, Nyonya."

Wanita itu berkata, "Saya mau mengambil 6 butir tapi dengan harga Rp 12.500 atau kalau ngga ya udah, ngga jadi beli." Penjual telur menjawab, "Baiklah, mungkin ini awal yg baik karena dari tadi tak ada satupun telur yg berhasil saya jual."

Wanita itu mengambil telur-telur tersebut dan berjalan dengan perasaan senang bahwa dia sudah menang.

Kemudian dia masuk ke dalam mobil mewahnya dan pergi ke restoran bersama temannya. Di sana, dia bersama temannya memesan apapun yg mereka sukai. Mereka makan sedikit dan menyisakan banyak dari apa yg sudah mereka pesan. Kemudian wanita tersebut membayar tagihannya. Tagihannya sebanyak Rp 450.000. Dia memberikan uang Rp 500.000 dan berkata bahwa kembaliannya untuk sang pemilik restoran saja.

Kejadian seperti ini mungkin terlihat normal bagi pemilik restoran, tapi sangat menyakitkan bagi penjual telur yg sudah tua.

Intinya adalah: "mengapa kita selalu menunjukkan bahwa kita punya kuasa ketika kita membeli dari orang-orang yang membutuhkan?. Dan kenapa juga kita jadi dermawan kepada orang-orang yang bahkan tidak membutuhkan kedermawanan kita?".

Suatu ketika saya pernah membaca:

"Ayahku biasa membeli barang2 remeh-temeh dari orang miskin dengan harga tinggi, walaupun dia tidak membutuhkan barang2 tersebut. Kadang2 dia bahkan membayar lebih untuk itu. Aku tertarik pada hal ini dan lantas bertanya mengapa dia melakukannya? Kemudian ayahku menjawab, 'Anakku, ini adalah sedekah yg terbungkus dengan harga diri.'"

Saya tahu anda tak akan membagikan pesan ini, tapi jika anda merasa bahwa orang-orang perlu mengetahuinya, maka sebarkanlah pesan ini.

Kalimat yg pantas untuk jadi perenungan: 
"SEDEKAH YANG TERBUNGKUS DENGAN HARGA DIRI."

credit to : Yayat Akadir

Senin, 23 Januari 2017

Mereka Yang Berdakwah Tanpa Label

“..rombongan itu hanya mencari arti terdalam HIDAYAH melalui pengorbanan dari mesjid ke mesjid..”

Tumbuh berkembang dari usia anak, remaja dan beranjak dewasa di lingkungan madrasah selama 6 tahun tidak membuatku lantas fanatik dengan pemahaman yang diajarkan guru (aku menyebutnya ‘asatidz’) kala itu.

Memang tampak jelas di mataku setidaknya 2-3 guru asatidz begitu semangat, menggelora, berapi-api menyebut gerakan/organisasi ‘M’ adalah paling baik, terstruktur dengan baik dan memiliki lembaga kajian yang sangat mumpuni di bidangnya. Saat berusia 18 kala itu, aku bisa memahami pernyataan asatidz didasari posisinya sebagai kader organisasi dan sekaligus pendidik di mata pelajaran mengenai profil organisasi M. Tentunya sangat baku, kaku, atau orang jawa bilang saklek  namun terkesan tegas dan mantap dengan pilihan organisasi yang menaunginya hingga sekarang.

Hingga saatnya aku pun dapat menamatkan pendidikan dengan predikat (alhamdulillah) terbaik saat itu dan lulus bebas test (PMDK) ke PTN ternama di Sumatera Utara. Dari sini lah aku mulai mengenal gerakan ini, mereka pindah dari mesjid satu ke mesjid lain. Memakai serban (sorban), berbaju gamis seperti orang arab atau india, berjanggut lebat, memakai celana di atas mata kaki dan pada beberapa kesempatan terlihat menenteng alat masak (kompor) saat berpindah-pindah tersebut. Aneh, unik, dan penasaran pun menghinggapi pikiranku. Buat apa sih seperti itu?, mau ngapain mereka?, kok segitunya kali ya?, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang mengusik keingin-tahuanku.

Bahkan dulu saat Aliyah (SMA) dengan agak sombong, sempat terpikir olehku ingin berargumen dengan mereka, mendebat mereka agar tahu titik terang dan menyadarkan mereka. Tapi dasar aku, beraninya cuma dalam hati aja. Akhirnya saat itu aku coba cuek aja, EGP dan menganggap santai aja.

Tinggal ngekos di Padang Bulan, Medan saat kuliah S1 dulu ternyata membuatku kembali bertemu dengan beberapa orang yang aktif dalam gerakan ini. Bahkan yang tidak kusangka, abang kos sebelumnya (yang kamarnya aku tempati) ternyata telah lama berkecimpung dalam gerakan ini. Alhasil aku tanya sana tanya sini sama si Abang, dan dengan gaya penuturan yang santai penuh senyum dan gurauan, aku merasa asyik dan enjoy dengan semua penjelasannya. Sedikit pun tidak ada was-was dan curiga dalam diri.

Akhirnya mulai saat itu aku coba melibatkan diri sekedarnya dalam gerakan ini. Aku tanggalkan (lebih tepatnya ‘sembunyikan’) latar belakangku sebagai murid madrasah, dan membaur dengan mereka. Mengamati dan menganalisis kajian, pemahaman dan tindak tanduk aliran gerakan ini dari dalam, ya dekat dengan mereka. Banyak sebenarnya yang enggan bergabung dengan mereka-mereka ini, beberapa bahkan mencemooh sampai memfitnah. Dari yang aku dengar mereka menyebut ini gerakan bid’ah (karena tidak pernah diajarkan Rasul dan Nabi), tegaan (karena meninggalkan keluarga), lupa dunia (karena isi kajian hampir seluruhnya dogma kehidupan akhirat), dan lain sebagainya. Namun dalam hati keci aku bergumam, “Kalau memang itu benar, kenapa meraka-mereka ini masih eksis?, kenapa masih ada sampai sekarang?”.

Namun setelah berinteraksi langsung, mengikuti kajian dan ikut belajar agama dengan mereka dari mesjid ke mesjid, akhirnya aku bisa sedikit memahami. Pertama, aku paling tidak bisa menyebut ini bid’ah itu tidak atau ini sesat itu sunnah karena secara aku masih sangat dha’if (lemah) dalam pemahaman seperti itu. Dari yang aku pelajari dari mereka, gerakan ini adalah buah pikir sebagai manifestasi dari kekhawatiran dan risau para ulama-ulama akan hilangnya HIDAYAH dari bumi Allah, yang mana itu merupakan petanda akan segera datangnya musibah yang dahsyat. Namun dengan tanda kutip, bergabung dengan gerakan ini pasti kita dapat hidayah, belum tentu.

Gerakan ini kalau bisa aku sebut sebagai cara, metode atau tarekat yang dilalui agar diri kita pantas diberi hidayah dari Alah SWT. Ingat, diri kita sendiri. Kita menyeru kebaikan atau mengajak orang lain ke mesjid, bukan berarti kita telah mendapat Hidayah dan orang lain tidak. Hidayah itu 100% adalah otoritas Allah SWT, kewenangan-Nya semata. Saat mengajak kepada kebaikan itu sebenarnya kita dilatih mengajak diri sendiri, mendisiplinkan diri dan menata hati agar terbiasa dalam kebaikan. Agar kita setidaknya layak dan qualified diberi pertolongan oleh Allah, keberkahan serta hidayah-Nya. Essensi gerakan ini adalah usaha untuk mendapatkan itu, bukan untuk mengajak orang sebanyak-banyaknya ke mesjid.

Kedua, tega meninggalkan keluarga  saat khuruj fii sabilillah (keluar di jalan Allah). Ini adalah bagian dari pengorbanan yang harus ditempuh dengan melepaskan diri dari ketergantungan pada makhluk dan materi. Meninggalkan keluarga tidak serta merta begitu saja. Sebelumnya seorang karkun (sebutan orang yang aktif dalam gerakan ini) yang telah berkeluarga harus menafkahi secara lahir dan bathin, mendapatkan ridha keluarga dan menabung serta menyiapkan bekal untuk beberapa hari/minggu/bulan ke depan. Untuk mendapatkan izin dan ridha keluarga tidak pula dilakukan dengan memaksa.



Jauh sebelum ditinggalkan, keluarga telah disiapkan dengan pemahaman agama yang baik, berperilaku sehari-hari mencontoh kehidupan di masa Rasul dan Sahabat Nabi, sabar dan lainnya. Sehingga ketika bekal lahir dan bathin keluarga telah disiapkan dengan baik, insyaAllah tidak akan dilanda kekhawatiran diantara keduanya. Namun kembali, karkun dan keluarganya telah memahami bahwa sebaik-sebaik bekal adalah Takwa dan Tawakkal kepada Allah. Terkadang aku juga merasa dilema dengan hal ini, tapi sering pula aku bertanya pada diri sendiri, “Mereka saja tidak khawatir meninggalkan keluarganya, Emang aku ini siapa kok mengkhawatirkan keluarga mereka?”. “Ahh...mereka ternyata punya Allah yang dekat dengan mereka”. Sudah kah aku berkorban sesuatu agar dekat dengan-Nya?”.

Lalu yang terakhir, lupa dunia. Yang ini memang dikhawatirkan sekali melanda calon-calon karkun baru yang begitu semangat mempelajari agama dalam gerakan (jama’ah) ini. Para karkun senior sendiri mengakui tidak sedikit para karkun akhirnya meninggalkan kuliah, meninggalkan keluarga tanpa pamit, meninggalkan kerja, dan meninggalkan hal-hal lain terkait aspek duniawi. Bak seorang sufi yang hati dan pikirannya berisi Allah SWT, akhirnya menjadi sangat zuhud (sangat sederhana), melepas hampir semua ketergantungannya pada materi dan makhluk, berpakaian dan makan seadanya, yang setiap dia menoleh ke setiap tempat namun yang terlihat adalah kebesaran Allah SWT, bahkan ada yang tidak menikah. Kalau sudah begini, kebanyakan masyarakat normal seperti kita (yang menyombongkan pemahaman agamanya yang tidak seberapa), memandang mereka-mereka setengah gila, tegaan, kurang waras dan sebagainya.

Dari yang aku pahami sampai sekarang, Rasullullah Muhammad SAW mengajarkan umatnya untuk taat pada Allah SWT namun tidak melupakan kehidupan dunia. Segala fasilitas duniawi boleh dinikmati sekedarnya dan digunakan untuk meraih ridha Allah SWT. Bahkan di dalam Qur’an sendiri ada potongan ayat yang mengingatkan hal yang sama, “Wa laa tansa nashiibaka minad dunya..”. Secara riwayat, ayat ini lebih ditujukan kepada mereka yang hari-harinya dihabiskan beribadah pada Allah. Mereka yang mengerjakan shalat sunat beratus-ratus raka’at, yang berpuasa sunat hampir setiap hari, yang bersedekah hingga hampir seluruh hartanya. Lalu apakah ayat ini layak juga untuk kita yang biasa-biasa ini. Ya, berapa shalat sunat yang kita kerjakan tiap harinya?, seberapa hebat puasa kita?, seberapa banyak sedekah kita?, seberapa banyak waktu kita gunakan memikirkan akhirat?, berapa...berapa???”.

Rutinitas gerakan (jama’ah) ini dari mesjid ke mesjid tiada lain adalah sindirian sekaligus teguran pada kita untuk kembali menghitung berapa banyak waktu hidup yang telah kita luangkan untuk agama ini?, untuk sesuatu yang kita imani?, untuk sesuatu yang dibawa sampai mati dan mempertanggung-jawabkannya?. Bohong rasanya kalau kita berkata sudah Banyak. Hitung aja, dalam sehari punya 24 jam. Untuk 5 shalat wajib paling habis 1 jam, baca qur’an 1 jam, total 2 jam. Atau katakan lah maksimalnya 5 jam per hari kita bisa meluangkan (mengorbankan) waktu untuk TOTAL beribadah pada Allah. Sedikit sekali bukan?. 19 jam nya kemana?, pasti mikiran dunia kan?. Itu pun kalau TOTAL khusyu’ ibadah ya, karena pengalamanku sendiri saat shalat aja kita masih suka kepikiran hal-hal lain selain Allah, berarti kita korupsi waktu juga.

Sekali lagi, sudah kah kita Total?. Maka pantas kah kita ngata-ngatain, menjelek-jelekkan mereka yang mencoba untuk Total kepada Allah. Mereka juga toh gak selamanya meninggalkan keluarga, mereka pasti balik. Mereka bawa pulang pelajaran, nasehat dan segudang kisah kebesaran Allah yang mereka rasakan saat di rumah nanti. Mereka kembali bekerja, menabung, belajar agama lagi, dan kembali begitu, pilihan siklus hidup mereka dalam menjaga hidayah agar tetap menyala dalam sanubari mereka.

Lalu aku pun bertanya kepada kita, apa pengorbanan, apa usaha kita untuk tetap menjaga, maintenance, dan charge iman kita yang suka naik turun ini?.

Akhirnya, aku pun ingin menyampaikan. Kita belum pantas untuk menghakimi dan melabeli mereka karena kita sebenarnya belum melakukan apa-apa (atau ada sedikit) untuk menjaga keimanan kita pada Allah SWT. Kita boleh saja menempuh cara lain untuk menambah ketakwaan dan ketaatan kita, namun tidak untuk menjelekkan mereka yang jelas sudah berkorban untuk sesuatu yang mereka yakini, dan itu semata-mata untuk memperbaiki diri mereka sendiri. So, sebagaimana yang diketahui bahwa tidak ada paksaan dalam agama, namun jangan lupa bahwa mengolok-olok (ngata-ngatain) tidak pula diajarkan dalam agama.

"BERSIKAP LAH SEWAJARNYA, DI TENGAH-TENGAH, NAMUN JANGAN ABU-ABU / TIDAK JELAS ATAU BAHKAN LIBERAL / BEBAS".


Salah satu Foto Jama'ah Masturah (suami -istri) Khuruj fii sabilillah
untuk berdakwah di daerah Jayapura.

Jumat, 20 Januari 2017

Wisata di Kota Kuala Lumpur **

>> Perjalanan sebelumnya bisa di cek DI SINI.

Kemudian hari pun berganti. Keesokan harinya kami mengunjungi Planetarium Negara dan Orchid Park, yang kedua objek wisata ini sebenarnya tidak berjauhan dengan Dataran Merdeka, bahkan bisa kami tempuh dengan berjalan kaki. Planetarium ini merupakan museum kebanggan negara Malaysia yang berisi dunia antariksa dan sepak terjang perjalanan astronot mereka ke luar angkasa. Pas browsing-browsing di internet, bangunan Planetarium menurut saya lebih mirip mesjid dengan bagian tangga dan atap (kayak kubah) berwarna biru. Tapi bener, emang khas dan cukup keren, meski di hari itu tidak banyak orang yang berkunjung.

Setelah bertnaya ke petugas dan ternyata free ticket, kami pun bergegas masuk dan benar saja, pemandangan mengenai ke-antariksa-an terpampang di setiap sisi ruangan. Planet-planet, tata surya, pakaian astronot, bagian pesawat luar angkasa, dan sebagainya mengisi pandangan mata setiap menoleh. Lucu nya saat itu ada seorang turis Bule yang kepo-in alat irama detak jantung yang cukup unik. Jadi dengan megang detektor berbentuk tangkai besi, suara detak jantung kita bisa terdengar seisi ruangan. Yup benar banget, setelah Bule itu pergi, giliran kami yang kepo-in itu barang. Dug..dug..dug..dugg.. suara jantung jelas terdengar dan kami senyum-senyum sendiri. Setelah mengitari dalam ruangan, kami kemudian menuju menara (tower) Planetarium. Di situ ada teropong yang bisa digunakan untuk melihat bangunan pencakar langit di kota KL dari kejauhan. Dan lumayan, pemandangan dari atas tower punya view tersendiri yang tentunya berbeda dengan yang lain.


Sehabis shalat dzuhur di Planetarium Negara, kami kemudian melangkahkan kaki ke Taman Orchid Park. Dari namanya saja sudah jelas banget taman ini ditumbuhi beragam jenis anggrek, dan tentu saja beraneka ragam warna. Masuk kawasan ini rasa-rasanya seperti mau ambil foto prewedding. Ke mana-mana angle-nya pasti bunga berseri. Untuk cewek pasti betah banget di sini. Pikir punya pikir dan setelah dihitung-hitung kami masih bisa dibilang pengantin baru, jadi deh ambil momen-momen postwedding di taman ini. jeprettt...jeprettt...


Sore menjelang malam, kami sempatkan mendatangi beberapa objek wisata mesjid di kota Kuala Lumpur. Seperti Mesjid Negara Malaysia, Mesjid Jamek, Mesjid India, Masjid Jamek Kampung Bharu. Sewaktu berkunjung ke Kampung Bharu, kami sempatkan berwisata kuliner di salah satu rumah makan yang hits banget di kawasan tersebut, ‘Restoran Nasi Lemak Antarbangsa’. Menu makanan jelas terpampang di dinding beserta jumlah harga yang bisa dibilang bersahabat. 


Dan benar saja, setelah kami cicip, Alhamdulillah makananya lezat dan familiar banget dengan lidah kita orang Indonesia (terutama kami yang dari Medan). Bahkan saat itu ada Bule dan seorang teman asia-nya juga makan malam bareng di sini. Selesai  makan, kami pun bergegas kembali ke hotel. Saat di jalan kami sempatkan singgah beli cemilan Pulut Mangga. Sayang banget belinya cuma 1 bungkus. Soalnya setelah sampai di hotel dan diicip-icip, rasanya enak dan bikin nagih.


Dan terakhir, shopping shopping shopping. Ya, sekalian beli oleh-oleh kami pun mendatangi pasar Petaling Street, China Town dan Central Market. Ramai banget, soalnya harga aneka barang dan merchandise di pasar ini bisa miring. Tapi tetap saja tergantung kemampuan negoisasi dan tawar menawar kita. Di sini kami ketemu segerombolan muda-mudi asal Indonesia yang kelihatannya banyak memborong oleh-oleh untuk dibawa pulang. Baju mereka sama, bertuliskan GoTravindo. Setelah cari tahu ternyata itu semacam educational travel program, dimana akan diberikan pelayanan program untuk pelajar di Indonesia maupun Internasional sehingga dapat belajar ke berbagai destinasi Dunia. Aysik ya...


Besoknya kami pun menuju bandara KLIA dengan Bus. Untungnya berangkat cepat, soalnya di Imigrasi bandara panjang banget antriannya, hampir 1 jam. Sempat diberitahukan jadwal pesawat kami delay 1 jam, dan setelah menunggu kami pun bisa terbang dan balik ke tanah air tumpah darah Indonesia (Kualanamu International Airport -KNO-, Deli Serdang) dengan selamat dan sehat. Alhamdulillah. Alhamdulillah dan Alhamdulillah. Kami menuntaskan trip pertama ke luar negeri dengan lancar. Dan pengalaman ini sangat amat berguna untuk rencana trip luar negeri kami berikutnya. Amin.

Wisata di Kota Kuala Lumpur *

Setelah check-in hotel, mandi dan ganti baju, tujuan pertama yang ingin kami datangi tiada lain dan tiada bukan adalah landmark paling terkenal yaitu Menara Twin Towers Petronas. Awalnya kami mengira jaraknya dekat bila ditempuh jalan kaki dari kawasan Bukit Bintang, tetapi setelah ditelusuri ternyata jauh juga, pegel. Memakan waktu sekitar 30 menit.

Ya, kawasan Bukit Bintang merupakan lokasi paling strategis yang kami rasakan, soalnya dekat dengan akses transportasi umum, jajanan kuliner, Mall berkelas, dan beberapa Mini market di sekitarnya. Karena lokasinya yang super padat dan termasuk kawasan wisata utama di KL, di daerah ini terdapat Tourist Information Counter untuk membantu para wisatawan bertanya lebih jelas tentang objek wisata dan transportasi di KL.


Dan setelah cari tahu sana-sini, ehhh ternyata tersedia Bus GO-KL gratis yang bisa dimanfaatin para turis untuk mengelilingi pusat kota KL, termasuk ke Menara Twin Petronas ini. So, pada hari berikutnya kami ketagihan menggunakan Bus ini sebagai transportasi utama selama di sana. Saking kemaro’ nya (kata orang Medan), kami mengabadikan moment di lokasi Twin Towers ini sesering mungkin. Ini beberapa jepretan-nya:


Berikutnya, landmark kedua yang kami datangi adalah Batu Caves. Katanya kalau belum ke sini ya belum sah ke KL nya. Dulu karena kudet (kurang update) kronis yang saya derita, mengira Objek wisata ini berada di Thailand. (Padahal kan di Thailand itu yang terkenal ya kuil-kuilnya seperti Emerald Budha, Wat Pho dan Grand Palace). Maka perjalanan menuju Batu Caves ini kami tempuh dengan menggunakan Commuter yang kebetulan penumpangnya tidak terlalu ramai, bisa dibilang sepi.

Sebelum berhenti di station, terlihat dari kejauhan patung dewa kuning keemasan yang paling mencolok di tempat wisata ini, besar sekali. Namanya Patung Dewa Murugan, merupakan patung Dewa tertinggi di dunia dan didatangkan dari negera tetangga Thailand. Kami pun kemudian masuk gerbang (free ticket) dan melihat ternyata sudah ramai sekali Turis di sekitaran lokasi, ditambah burung merpati yang jumlahnya ratusan terbang ke sana sini. Tidak mau melewatkan view tempat ini, kami pun mengabadikan foto dengan background patung dewa raksasa tersebut. Kemudian menaiki tangga yang cukup melelahkan (butuh 2-3 jeda hingga akhirnya sampai ke dalam Gua). 
  


Di dalam Gua nya sendiri setidaknya ada 3 ruang yang cukup luas, ketiganya pun kami telusuri. Uniknya, di ruangan ketiga (paling ujung) kami bertemu dan beramah tamah dengan rombongan keluarga turis asal Bangladesh. Mereka meminta saya mengambil foto, dan sebaliknya mereka menawarkan diri mengambil foto kami. Kami juga sempat kan berfoto bareng di depan kuil di sekitar situ.

Yang tidak disangka, mereka juga menawarkan makanan khas Bangladesh dan kemudian kami cicipi sekedarnya. Jujur, rasanya kurang nyambung di lidah kami. Kami ucapkan terima kasih dan meninggalkan mereka sambil menyimpan makanan yang diberi itu dalam tas. Meski sempat menyicipi, kami berdua tetap ragu karena makanan ini karena tergolong syubhat (halal gak, haram juga gak, di tengah-tengah?).

Selepas dari Batu Caves, kami menuju Dataran Merdeka. Di sini kami sempatkan berfoto dengan I LOVE KL yang sangat iconik (karena hampir setiap ke KL, teman FB yang saya kenal selalu upload foto dengan icon ini). Lokasi nya persis di depan Kuala Lumpur City Gallery. Karena kebetulan agak sepi, lebih dari 50 jepretan bisa kami ambil di depan icon ini.

Setelah itu kami berjalan ke tengah lapangan hijau dan terlihat beberapa turis duduk santai sambil menikmati dan mengamati gedung Sultan Abdul Samad Building, bangunan klasik bergaya Eropa di seberang jalan. Pastinya deretan gedung ini sangat layak dijadiin background foto jika berkunjung ke lokasi Dataran Merdeka. Sangat rapi, elegan dan indah, apalagi saat di lokasi hari sudah sore menjelang malam. Dengan hidup nya lampu di dinding-dinding gedung serasa menambah nuansa yang sejuk, romantis dan intim. Alhasil kami cukup puas dengan moment di tempat ini.



Hari pun berlalu. Besok nya kami berjalan-jalan santai mengunjungi taman kebun raya Perdana Botanical Garden Kuala Lumpur. Di sana kami sempat takjub melihat susunan bunga tersusun dalam lengkungan yang cukup luas (menyerupai piring) disebut Sunken Garden.

Di sana juga ada Lake Garden, danau bersih dengan pemandangan gedung-gedung KL Central. Dan pastinya ada beribu-ribu jenis tanaman, bunga yang tersusun rapi, bersih dan mempesona, yang sangat sayang bila dilewatkan. Bila melihat kawasan ini, sempat teringat saat jalan-jalan ke Taman Simalem Resort, Karo. Beda nya Taman ini tidak berlokasi di daerah perbukitan (bahkan di tengah kota) dan memiliki spot yang lebih luas dibandingkan Taman Simalem resort.

Well, this is it...



>> Baca DI SINI untuk hari berikutnya.

Selasa, 11 Oktober 2016

Dapat Doorprize HUT 71 TNI Duri-Mandau

Di tengah ramainya pemberitaan penggandaan uang oleh Kanjeng Dimas, riuhnya dugaan penistaan agama oleh Cagub DKI petahana dan penantian vonis hakim kepada Jessica Kumala Wongso, aku dan istri mengikuti Jalan santai dalam rangka HUT ke-71 TNI Republik Indonesia di Duri-Mandau.

Hehe...ya, ketiga berita di atas sering menghiasi layar kaca setiap televisi dinyalakan. Aku dan istri lebih sering sepaham dibanding berbeda paham menanggapi setiap berita tersebut. Beda halnya saat Ortu nelepon dari kampung, Bapak dan Mamak sering berdebat karena lain pemahaman. Baik lah, kita tinggalin ngomongin berita berat gituan. Biar lah proses hukum berjalan dengan tetap memantau gimana akhirnya nanti.

Kembali ke Topik, HUT 71 TNI RI di Duri-Mandau.
Sebelumnya aku dan istri di setiap weekend pasti mengusahakan olahraga jogging, atau jalan santai. Lebih sering melakukannya di dalam kompleks CPI (chevron pacific indonesia), soalnya suasanya Asri banget dan tersedia rute jogging berikut indikator meter yang menandakan seberapa jauh jarak kita tempuh. Tapi di akhir minggu kami sering juga ‘bangkong’, hehe. Ya kami bantai tidur sampai siang, gara-gara itu pernah sampai lupa masak nasi.

Hari kamis lalu saat istri pulang ke rumah dia bercerita. Tadi ada spanduk di Simpang pokok jengkol tentang Jalan Santai bersama TNI dalam rangka HUT TNI ke-71 hari minggu nanti (9 Okt 2016) di wilayah Koramil 04 Mandau. Terus dianya bilang ada banyak doorprize yang akan diberikan kepada peserta jalan santai tersebut. Aku pun merespon dengan semangat. Hitung-hitung olahraga sambil dapat rezeki, kan man tahu ya...

Soalnya seingatku, belum pernah sekalipun sebelumnya dapat doorprize di acara-acara begituan. Ya, waktu kuliah S2 di Semarang dulu, hampir setiap minggu pagi aku ikut senam aerobik di depan toko Ace Hardware simpang Lima. Di acara itu dibagiin nomor kupon sebagai tiket peluang mendapatkan doorprize yang ada. Hehe...apes deh, gak pernah dapat.

Dulunya waktu kuliah S1 di USU Medan pernah iseng ikut kuis di radio SmartFM, dan nomorku terpilih mendapatkan merchandise. Senang banget waktu itu. Tapi aku gak ambil hadiahnya karena gak nemu alamat kantor radionya. Terakhir ya dibiarin gitu aja.

Jadi saat acara HUT TNI kemarin berasa banget ada kepengen dapat doorprize, apalagi hadiahnya banyak dan menarik. Ada snack, payung, big box plastic, setrika, rice cooker, dispenser, kompor gas, smartphone, mesin cuci, kulkas, dan sepeda gunung polygon.

Dalam hati, kami ingin sekali mendapatkan kompor gas dan sepeda gunung, karena yang lainnya sudah ada di rumah. Jadi dimulai lah acara, ada beberapa kata sambutan hingga pelepasan peserta jalan santai. Istri langsung mengajak aku ambil posisi di depan. Katanya biar cepat kembali dan cepat dapat kuponnya. Jadi lah wajah kami berdua kena jepretan wartawan saat pelepasan itu.




Aku dapat nomor kupon 0812 dan istri 0117, jalan pun dimulai. Kami berselfi ria dan mengambil foto satu sama lain saat jalan santai tersebut. Rute yang ditempuh kali ini dimulai dari pokok jengkol -> Jalan Sudirman -> Jalan Pertanian -> Jalan Hang tuah -> kembali ke pokok jengkol. Sebelumnya panitia menginstruksikan, kupon nantinya harus mendapat cap/stempel “PPM” saat peserta berada di persimpangan Jalan Pertanian dan Hang tuah sebagai tanda kupon yang sah.




Sambil jalan, kami melihat ada peserta lain yang dapat kupon banyak, sekitar 4-5 lembar gitu. Aku pun berkata sama istri, “Lihat tuh, kok bisa dapat segitu banyak ya Dek?. Besar kali lah peluang dia dapat doorprize nanti”. Tapi istri kalem aja membalas, “Memang besar peluangnya, tapi kalau memang rezeki gak dicatat di atas sana, ya tetap aja gak dapat. Kalau kita jujur aja, satu orang satu kupon, kan niatnya olahraga bukan untuk dapetin hadiah”. Dalam hatiku, tumben bijak banget istriku ini. Jarang banget dia sebijak itu, padahal dia lagi ngos-ngosan plus keringat tampak bercucuran. Aku sendiri belum ada keringat sama sekali.

Berikutnya, kupon kami pun dapat stempel dari panitia. Terus jalan dan jalan terus sampai akhirnya kami tiba kembali di lapangan pokok jengkol. Alhamdulillah nya, begitu sampai kami melihat aneka sarapan sehat terhidang di atas meja secara gratis. Ada pisang rebus, ubi jalar rebus, kacang tanah rebus dan air mineral. Tanpa basa-basi, kami ambil deh itu makanan dengan proporsi (masih) wajar. Hehe. Sayangnya peserta yang belakangan tiba tidak mendapatkan menu sarapan sehat itu, ya tentu saja karena laris manis.

Hari semakin terik, kami pun mengambil tempat duduk dingin (terlindung dari cahaya matahari) di dekat panggung utama. Tidak terasa sarapan pagi itu habis begitu saja, soalnya aku suka banget terutama sama pisang rebus nya. Apalagi setelah menempuh jarak yang lumayan jauh, ya pasti lapar juga.

Saat yang dinanti pun tiba, MC membacakan nomor kupon terpilih sebagai penerima doorprize mulai hadiah kecil hingga utama. Beberapa petinggi diminta untuk mengaduk dan mencabut kupon dari kotak kaca di atas panggung.

10 kupon pertama pun dibacakan, terus 10 kupon kedua, lalu 10 kupon ketiga, kami berdua masih nihil. Dalam hati agak sedikit was-was karena hadiah semakin sedikit, dan tentu saja peluang mendapatkannya pun semakin kecil.

Setelah pembacaan 10 kupon ketiga tadi, MC meminta sekitar 10 ibu-ibu berjoget ria di depan panggung untuk dapatkan 10 buah smartphone. Hadiah akan diberikan pada siapa yang jogetnya paling semangat. Kami dan penonton lain pun heboh melihat joget ibu-ibut itu. Banyak yang tertawa, tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat tingkah ibu-ibu itu. Sungguh tidak disangka, beberapa ibu berjoget begitu liar dan vulgar mengimbangi goyang ngebor-nya Inul Daratista, ditambah pujian dan sahutan MC yang semakin menambah kehebohan.

Sesekali aku istighfar, tapi begitu terlihat lagi aku malah ketawa senyum-senyum dan mengalihkan pandangan pada istri, dan ternyata istri pun senyum geleng-geleng kepala melihat jogetan maut tersebut. Haha...

Oke, skip skip... hadiah smartphone pun dibagikan kepada ibu-ibu yang terpilih. Berikutnya MC memberikan hadiah kompor gas, dispenser, rice cooker, mesin cuci hingga bersisa 2 hadiah lagi di atas panggung yaitu 1 kulkas (semula 3 kulkas) dan 1 buah sepeda gunung. Kami pun semacam hopeless melihat kenihilan itu. Apa mungkin dengan 2 hadiah tersisa salah satunya ada rezeki kami.

Lalu MC meminta perwakilan UPTD Dispenda Mandau mengambil 1 kupon untuk hadiah kulkas. Aku pun tertegun, sesekali melihat istri yang ternyata menunduk sedari tadi sambil memainkan smartphone-nya. Dalam hati aku melafalkan doa setelah shalat Dhuha, “kalau rezeki, keluarkan lah ya Allah..dst..dst..”. Setalah diaduk dan diaduk, terambillah satu kupon tersebut. Perlahan dibacakan, “Kosong.....Satu.....Satu.....????”,

Jantungku berdegup kencang mendengarnya dan sangat berharap setelahnya adalah ‘Tujuh’. Sementara istri masih tetap menunduk. Mereka membacakan ulang dan meminta peserta jalan santai melihat kembali nomor kuponnya,

“Kosong.....Satu.....Satu.....Tujuh”.

Yeeeeeee Alhamdulillah....aku tiba-tiba berdiri kegirangan dan langsung memegang tangan istri.

“Dek...ayo maju ke depan, nomor adek itu...!!!” kataku penuh semangat. Sontak istri pun terkejut bukan main, begitu girang dan nampak terburu-buru naik ke atas panggung. Dia menunjukkan potongan kuponnya dan Alhamdulillah, itu memang rezeki kami. Alhamdulillah...Alhamdulillah....




Setelah duduk kembali, kami tidak habis-habisnya saling berpandangan. Tersenyum dengan perasaan yang dag dig dug, tak menentu karena begitu senangnya. Berikutnya, MC pun membacakan penerima hadiah sepeda gunung yang ternyata diperoleh salah seorang personel TNI sendiri.

Setelah acara ditutup, seluruh peserta pun bubar. Beberapa diantaranya ada yang tampak kecewa. Aku dan istri kemudian membawa hadiah kulkas tersebut menggunakan oplet/angkot yang kebutulan ngetem dekat situ. Akhirnya sesampainya di rumah, kami berdua bersorak kegirangan.

Tidak lupa kami bebarengan sujud syukur kepada Allah karena mendapat doorprize kulkas, yang menurut kami tergolong besar. Istri bercerita, ternyata sewaktu menunduk tadi dia juga berdoa senada dengan doa setelah shalat Dhuha itu. Tanpa aba-aba atau kesepakatan apapun, ternyata di saat yang berdekatan itu kami memanjatkan doa yang sama. Dan Alhamdulillah... Syukur kami kepada Rabb atas rezeki ini.
  
Terimakasih kami haturkan kepada Tentara Nasional Indonesia (TNI) RI, yang pada ulang tahunnya ke 71 memberikan kami doorprize gede perdana di umur kami. Semoga makin dekat dengan masyarakat, dan menularkan virus semangat patriotisme kepada kami semua. Jaya lah TNI...
“Bersama Masyarakat, TNI Kuat!”

Terimakasih juga pada sponsor Hotel Grand Zuri Duri yang menyediakan doorprize ini. Semoga barakah dan bermanfaat untuk kami.....Aminn.

Kamis, 08 September 2016

'Nikah' : Alih Status

Bismillahirrahmaanirrahiim,

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ .
Artinya : “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar Ruum : 21)

Setelah sekian lama vakum, akhirnya pengen nambah tulisan juga di blog ini. Kali ini pengen cerita singkat aja tentang alih status dari yang dulunya lajang menjadi "married" a.k.a. (red-alias) menikah.

Awal tahun 2016, alhamdulillah status berubah menjadi MENIKAH. Alhamdulillaah ya Rabb, Engkau rangkul kami dalam ikatan halal bernama NIKAH. Bersama dia wanita yang telah lama aku kenal. Wanita yang pada pandangan pertama hatiku bergumam, “Subhaanallah, ya Rabb, kelihatannya dia cocok banget jadi isteriku”.

Tanya kenapa?, jawabannya “Gak tahu”. Chemistry-nya dapat, dan Grrrrrrr-nya berantakan (bahasa stand up comedy sekarang). Hehe. Ya mengalir begitu saja.

Segalanya pun berubah. Status ini memang menghendaki perubahan yang signifikan. Telah ada teman hampir dalam 24 jam setiap harinya. Dari bangun tidur sampai mau tidur kembali. Semua dilewati berdua, berembuk, berencana, memutuskan, sampai dengan berantem dan merajuknya juga. (hehe)

Keromantisan dan keharmonisan berumah tangga pun kami rangkai berdua. Kalau kebanyakan pasangan buat foto prewedding, kami justru buat foto post-wedding di Hutan Bakau-Sei Rampah, persis sehari setelah acara ijab qabul di rumah sepupu abangda terhormat Hasan Hrp di Laut Dendang-Medan.


 Acara ijab qabul-nya pun punya cerita sendiri. Untuk meminta izin acara digelar di rumah itu, kami berdua memberanikan diri datang dan berdiskusi dengan abang sepupu dan kakak (isteri dari abang sepupu) serta ucok-ucokku di sana. Ini perlu agar keluargaku dan keluarga calon isteriku tidak perlu menempuh perjalanan jauh Padang Lawas-Subulussalam yang kalau dihitung-hitung bisa 2 hari 2 malam perjalan, dan tentunya karena hasil kesepakatan antara keluarga juga.

Setelah ACC, hari H pun tiba. Dan alhamdulillah moment berucap ijab qabul pun dapat dilakukan hanya dengan sekali saja. Terasa ada gemuruh besar di dalam dada pasca mengucapkan janji itu. Sambil berdoa, mata pun mulai berlinang, hampir menitikkan air mata. Senyum dan tangis dipendam di dalam saja, karena agak malu (ja’im) dilihat keluarga, saksi-saksi dan orang yang berhadir saat itu.

Sayang sungguh sayang, moment tersebut tidak terekam video karena terlupa. Bahkan rekaman video ponsel pun tidak ada sama sekali. Kalau teringat itu, kami berdua sering saling bertatapan sambil meyakinkan satu sama lain bahwa SEBENAR-BENAR BUKTI DAN SAKSI IKATAN HALAL KITA ADALAH ALLAH SWT.


Yaa Rahmaan, Yaa Rahiim,
Pemilik segala kemuliaan, pemilik segala pujian yang tak ternilai, Kami makhluk dha’if membuat janji di hadapan-Mu, beribadah dengan saling mencintai karena-Mu. Bantulah mengeratkan jalinan yang terikat ini, memberkatinya dan mempertahankan-nya hingga jasad tak ber-ruh lagi. Amiin.

Sabtu, 11 Oktober 2014

Impian Si Kecil

* Inspired by adikku Mawanul Agus Hsb.

Saat itu aku diminta buatkan puisi untuk Perpisahan kelas VI SD-nya.
Kucoba rangkai kata, merenung sejenak mencoba memposisikan diriku saat dahulu berada di kelas VI SD.
Tapi waktu berubah, tidak mungkin apa yang kurasa sama dengan yang dirasakannya.
Kucoba kenali lagi apa-apa yang sering Ia curhatkan kepada ku.
Ya....akhirnya puisi ini tercipta apa adanya.
Polos dan tidak muluk-muluk.
Mungkin Anul sudah lupa dimana catatan puisi ini Ia letakkan.
Tapi aku coba abadikan di dinding blog ku ini.


IMPIAN SI KECIL

Aku pelajar bertubuh mungil,
Penuh impian dan cita-cita,
Sering aku ditanya,
Kelak jadi apa saat besar nanti,

Saat aku teringat superhero,
Ku jawab aku ingin jadi pahlawan,
Saat aku teringat api yang menyala,
Ku jawab aku ingin jadi pemadam kebakaran,
Saat aku melihat orang jahat,
Ku jawab aku ingin jadi polisi,
Saat aku ikut pengajian,
Ku jawab aku ingin jadi ustadz,

Impianku tak semungil tubuhku,
Aku berdoa kepada Sang Ilahi,
Diberikan waktu hingga cukup umur nanti,

Semoga cita-citaku dapat kuraih.

Senin, 06 Oktober 2014

Menikah Itu Enak Lho...

Tolak Ukur MENIKAH itu bukan dilihat dari Sebanding atau Tidak, 
tapi dari Seiman atau tidak.

MENIKAH itu Bukan tentang KESIAPAN 
tapi tentang KEBERANIAN memPERTANGGUNGJAWABkan akad dihadapan Allah

MENIKAH itu seperti BERENANG, Gak Cukup Teori tuk kuasai.. 
Mencebur kedalamnya lah yg akan Mengajarkan kita untuk tidak tenggelam dalam Kehidupan

MENIKAH itu itu bukan semata-mata tentang CINTA & RASA, 
tapi tentang KEIMANAN & KESETIAAN pada ajaran & anjuran Tuhan..

MENIKAH itu = menyusun PUZLE Kehidupan, Sering Butuh Pihak Ketiga tuk "klop"kan 'PUZLE' dalam sebuah PERJODOHAN.

MENIKAH itu BUKAN tentang RASA.. PERCAYA aja deeeh Soal Rasa hanya MIE SEDAP yg tak pernah BOHONG..heheehe..

MENIKAH itu memang MENAKUTkan bagi Para JOMBLO.. Tapi PERCAYAlah jadi JOMBLO Abadi itu apalagi PACARAN, Lebih MENAKUTkan MEMILUkan + MEMALUkan..

MENIKAH itu itu seperti minum TEH BOTOL.. Apapun Masalah si JOMBLO Menikahlah SOLUSInya...

MENIKAH itu itu mengKAYAkan.. Bila KEUANGAN jadi alasan menunda Nikah, maka gak ada alasan tuk dia jadi KAYA..

MENIKAH itu seperti makan SOSIS... Bisa dilakukan oleh siapapun, dlm kondisi apapun.. Yg penting SO NICE Niat & Tujuannya..

MENIKAH itu MUDAH karena Allah itu Maha Memudahkan... Kecuali kita sendiri yg MEMPERSULIT dgn Alasan BERBELIT-BELIT kayak si PELIT...

Rabu, 03 September 2014

Belajar 'Endless Love'

Ada beberapa kalimat dalam film Endless Love (2014) yang menginspirasi dan memantapkan mentalku menuju hubungan yang lebih serius dengan calon pasangan hidup.

Memang tetap saja ada scene-scene yang tidak patut dan terkesan lebay dalam film ini. Walau agak sedikit klise, namun setidaknya percakapan Hugh (ayah si cewek) dengan David (si cowok) dapat diambil pelajaran ketika kita benar-benar serius dengan calon kita.

Percakapan di bagian ini merupakan pertanyaan yang sering kali dikhawatirkan para orangtua terhadap anaknya, terutama di saat putera mereka menyampaikan niat untuk menikah, -hehe..curcol-.

Berikut kira-kira dialognya (dengan editan bahasa yang lebih akrab):

Orangtua : “Nak, kami tahu kok cinta itu memang indah. Tapi bukan hanya itu yang kau butuhkan nantinya. Kau juga perlu hal-hal lain seperti makan, kosmetik isteri, asuransi dan hal yang tidak romantis lainnya, seperti minjam uang kesana-kesini”.

Dan dengan elegan dan percaya diri si Pria menjawab :
“Aku paham Pak, Mak. Aku yakin, kelak aku akan mendapatkan semua itu, walau tidak akan pernah persis seperti yang Bapak Mamak punya. Tapi aku juga sangat yakin cinta akan datang lebih dahulu. Pada akhirnya, apa yang lebih penting dari itu?.

Buat apa aku menjalani ‘serba kecukupan’ dengan sesorang yang tidak aku cintai. Cinta sejati dengan sendirinya membuat diriku rela memperjuangkan dan mengorbankan apapun, tidak setengah-setengah. Semangat, energi dan motivasi yang muncul karena yakin bersamanya dapat membuatku menjadi baik dan semakin baik. Dan dari dulu aku bukanlah tipe cowok playboy, aku mencintai satu wanita dan setia padanya.”

Oh my Rabb....nyentuhnya itu di dalam sini (sambil nyentuh dada,  Hehe)
Dalam hati aku bergumam,”kok kayak aku banget?”.
Kalimatnya ngena banget dalam hati. Sepertinya kalimat di atas ampuh untuk menjawab kekhawatiran orangtua nanti.
-semoga-

Sebenarnya gimana ya?

Ingin rasanya orangtua memberi kepercayaan pada puteranya, mendukungnya dan tetap memperhatikannya. Apalagi yang ingin dilakukan putera mereka bukan lah perbuatan buruk, kriminal ataupun perbuatan dosa. Dia hanya ingin menyampaikan keseriusannya mencintai pasangan dan siap menikah. Merupakan suatu yang wajar bila di kemudian hari Dia berhadapan dengan suatu masalah atau keadaan yang tidak diinginkan, namun orangtua selalu ada untuk mendukung dan memberi solusi. Bukan malah mencemooh atau bahkan mengungkit-ungkit masa lalu yang dibumbui pernyataan menyakitkan seperti “bahwa dari awal kami sebenarnya berat meridhai, kalian pasti akan begini, akan begitu, dan sekarang kalian rasakan”.

Ya Allah, betapa rapuhnya bila mendapat respon seperti itu dari orangtua sendiri. Gak sanggup ngebayangin dan bukan main pilu nya.
Semoga tidak terjadi dalam kehidupan kita nanti ya teman...! (aamin)

**************************************************************
Dear Bapak dan Mamak terbaik yang Allah titipkan padaku,
Biarkan aku belajar mencintainya dengan serius,
Dengan ikatan halal yang diridhai Ilahi Rabbi,
Aku tahu tak akan mudah menjalaninya,
Tapi kami akan tegar bila kami didukung tetap bersama,
Bila kami tidak dicemooh perkataan yang amat pilu,

Kami sudah menjalani banyak hal bersama,
Kami disayangi, kami dihormati, kami disanjung,
Tapi kami juga pernah dibenci, dijauhi, dan pasang surut dalam hubungan ini,
Tapi kami kembali bersama, kami kembali dekat,
Dan kami tahu, itu belum berarti apa-apa jika dibandingkan setelah kami bersatu nanti,
Pasti akan banyak hal yang tidak terduga di sana nanti,

Kami sadar sepenuhnya, kami adalah manusia biasa dan bersalah,
Tolong tetap berada disamping kami ketika memperbaiki kesalahan itu,
Kami rintis komitmen untuk tetap saling menguatkan,
Siap mandiri, bersakit-sakit dan tidak dimanja lagi,
Siap menerima kekurangan pasangan,
Menghadapi masalah tidak melebar kemana-mana lagi,

Kami sungguh merasa sejiwa,
Satu pikiran, saling melengkapi satu sama lain,
Merasa Tuhan menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan,
Maka dialah teman hidup saat ini dan nanti,

Dear Bapak dan Mamak Tersayang,
Berilah ridha dan restumu pada kami.
Aku berjanji akan tetap berusaha memperhatikan Bapak dan Mamak,
Adek-adekku tersayang, teman sedarah dagingku,
Menyayangi kalian,
Karena melalui kalian lah pertama kali aku mengenal kasih sayang itu,
**************************************************************

Rabu, 27 Agustus 2014

Jangan Sembarang Bicara dengan Orang yg Tidak Dikenal saat Berada di Fasilitas Publik

Bismillahirrahmaanirraahiim...
Sedikit berbagi cerita berisi nasehat bagi kita, pada tanggal 24/08/2014 terjadi peristiwa yang sepertinya sedikit menguras perhatian dan kekesalanku pada diri sendiri. Bagaimana tidak, hewan pun tidak akan jatuh pada lubang yang sama. Tetapi sungguh aku manusia yang lemah (namun sering merasa sombong), aku kembali khilaf, teledor, dan naas ketika harus kehilangan titipan uang orangtua untuk adek-adekku di Medan.

Peritiwa pertama terjadi ketika aku baru saja menginjak tanah Jakarta. Dari stasiun gambir, aku menaiki KOPAJA menuju stasiun Tanah Abang untuk menyambung naik kereta api. Disitulah secara tidak sadar aku kehilangan smartphone dari sakuku. Sungguh terhipnotis. Aku menyadarinya setelah turun dari kopaja tersebut. Sementara pelakunya sudah turun terlebih dahulu, tidak lama setelah barang yang mereka incar didapatkan. Namun kejadian ini tidak terlalu kupusingkan. Dengan sedikit upaya, aku mencoba ikhlas merelakan smartphone-ku tersebut yang nilainya tidak terlalu besar.

Peritiwa kedua, sungguh sesak di dada ketika tersadar bahwa aku terhipnotis 3 orang oknum di angkot 07 menuju Aksara, Medan. Pelajaran yang amat berharga. Bukannya tidak pernah mendengarkan nasehat orang-orang bahwa harus berhati-hati dengan orang yang tidak dikenal, terutama ketika berada di fasilitas publik, jangan sembarang ngobrol. Namun aku menganggap enteng saran tersebut. Kini baru terbukti bahwa nasehat itu memang sangat nyata adanya.

Setibanya di Medan pagi hari, aku dan penumpang lainnya turun di loket (pool) CV. Padang Bolak di Jl. SM.Raja. Karena lapar, aku pun sarapan di rumah makan tempat loket Bus tersebut. Setelahnya, aku bergegas menyeberang  jalan untuk mencari angkot menuju Aksara sambil membawa koper yang berukuran cukup besar. Sedikit bertanya-tanya kepada orang sekitar, akhirnya aku tahu angkot 07 berwarna kuning dapat mengantarkanku sampai Aksara. Lalu aku pun me-nyetop salah satu angkot 07. Disinilah peristiwa naas itu terjadi. Dan aku sangat ingat betul trik penipu/penghipnotis/pencuri yang mencari mangsa di angkutan umum yang kualami saat itu. Saat itu semua pelaku adalah 3 orang laki-laki dan berperawakan kebapakan.

Sesaat setelah menaiki angkot 07, berselang 1-2 menit kemudian naik lah seseorang yang tidak terlalu mencurigakan. Orang pertama (Or-1) berambut agak panjang menjulur ke leher, terlihat seperti orang perantau namun kalem. Saat itu aku belum curiga sama sekali. Namun 1 menit kemudian, naik lah seseorang bapak (Or-2) berkulit gelap, memakai kaos berkerah berwarna belang-belang dan mengenakan lobe/peci putih namun tidak rapi. Wah dalam hati aku sudah tidak merasa nyaman karena aku paham betul seseorang yang terbiasa mengenakan lobe/peci tidak akan serampangan/asal-asalan. Posisi saat itu mau tidak mau mengharuskanku mengambil tempat duduk di sudut angkot karena membawa koper. Si bapak berlobe/peci tadi langsung mengambil tempat duduk persis di depanku, sementara orang pertama tadi ada disebelah kanannya.

Belum terjadi diskusi saat itu. Namun sekitar 1 menit berikutnya, naiklah orang ketiga (Or-3) bertubuh gemuk, kulit gelap, memakai baju kemeja, menyandang tas kantor dan langsung saja mengambil tempat duduk persis sebelah kiri-ku. Aku terpojok, aku dihimpit olehnya dan aku benar-benar sangat tersudut. Belum lagi koper yang kutaruh didepanku semakin menambah sensasi sempit di angkot tersebut.


Meraka pun memulai dramanya.

Koper yang semula didepanku digeser menjadi persis berada diantara Or-1 dan Or-3, karena si Or-2 merasa koper tersebut menimpa kakinya sehingga Aku dan Or-2 tidak terhalang oleh koperku tadi. Setelah itu, Or-2 (bapak berlobe/peci) beraksi dengan modus mengeluarkan selebaran-selebaran kecil yang berisi tulisan promosi pengobatan alternatif yang dapat mengobati penyakit kronis, dan dibagi-bagikannya ke Or-1, Or-3 dan Aku. Sebenarnya malas sekali menerima selebaran promosi yang begituan. Tetapi karena duduk persis di depanku, aku terima begitu saja. Bagiku yang lulusan S1 Fak. Kesehatan Masyarakat USU tidak semudah itu langsung percaya metode pengobatan yang begituan. Apalagi selebarannya sangat tidak menarik dan hanya berwarna hitam putih (a.k.a fotokopi-an). Ok, aku terima selebarannya dan hanya kupegang. Mulailah Ia berpromosi lewat bicara,

“Kami dapat mengobati berbagai penyakit dengan metode penyembuhan bla...bla..bla”.
Aku cuek aja.
Or-1 terlihat berminat dan sok asyik, lalu ngomong, “Alamatnya dimana Pak?, bisa untuk wanita juga kan?”
“Oh bisa, bisa Pak”.

Lalu aku kaget, tiba-tiba Or-2  ini malah nanya ke aku  dengan gaya sok akrab:

‘Dari mana Bang”
(aku diam aja)

“Saya bisa memeriksa abang punya penyakit atau tidak. Sudah berumur berapa sekarang?”,

Mungkin karena sifat dan karakterku yang mudah akrab dengan orang, sekalipun baru dikenal, akhirnya aku menjawab, “Tebak lah umur berapa?, lagian aku masih muda. Belum ada penyakit serius”.

Sungguh sial/naas, aku pun terpancing juga dalam obrolannya.

“Coba sini tangan Abang aku periksa”,

Langsung dia pegang tanganku yang masih memegang koper.
“Udah, gak usah Pak. Gak Perlu”, jawabku.

Tapi tetap saja dia kusuk jemariku. Lalu Aku tarik jemariku, namun tangannya liar mengusuk kakiku sebelah kiri.

Denyut nadiku bergemuruh. Berusaha aku hindarkan kakiku, dan kulepaskan tangannya. Namun karena posisi tersudut, Dia kembali mudah menjangkaunya. Aku benar-benar jadi mangsa, jadi bulanan mereka. Sempat aku berdoa kepada Ilahi Rabbi  di dalam hati agar terhindar dari niat jahat orang. Namun ntah kenapa pikiranku hanya fokus pada koper di depanku, kedua ponsel di saku kiri dan kanan celana. Tetapi mengabaikan saku kiri belakang celanaku yang aku sisipkan uang sebanyak 5jt rupiah. Tidak terpikirkan sama sekali olehku.

Sementara penumpang lain acuh tidak acuh memerhatikanku. Aku heran, tidak sedikitpun mereka tergerak menolongku. Apalagi supir angkot, yang kuat dugaanku sebenarnya bekerjasama dengan oknum pelaku hipnotis ini, hanya asyik mengemudikan angkot ke depan.

Masya Allah, memang sungguh naas. Sekitar setengah menit Or-2 ini meraba-raba kaki kiriku. Akupun tidak sadar bahwa uang 5jt telah raib dari saku belakangku. Aku tidak tahu persis siapa yang mengambilnya. Apakah si Or-2 atau si Or-3.

Aku tidak diajak ngobrol lagi, namun pikiranku belum juga sadar hingga secara beratur mereka turun dari angkot.

Angkot berhenti, si Or-2 turun lebih dahulu, lalu 1 menit disusul Or-3. mereka cepat sekali menjauhi angkot tersebut. Agaknya ada seorang penumpang yang mulai curiga dengan gerak gerik turunnya mereka.

‘Hei Bang, coba cek kantong dulu. Ada yang hilang gak?”, tanyanya ke arahku.

Baru aku tersadar.
Aku periksa, ternyata benar. Uang di kantong belakangku hilang. Aku panik.

“Wah...aku kirain tadi itu teman abang. Lain kali gak usah mau diajak ngobrol sama orang yang gak dikenal”, tambahnya.

Penumpang lain pun spontan, “Stop Bang supir, berhenti. Ada yang kecurian ni”, kata penumpang lainnya.

Suasana isi angkot berubah jadi panik, takut dan bercampur iba melihatku. Angkot berhenti.

“Kejar bang sebelum jauh orangnya”, seorang pemumpang lain menyarankanku.

Aku buru-buru turun, namun aku tetap ingat koper yang kubawa. Karena penumpang angkot agak ramai, aku kesusahan menurunkan koper, dan tentu saja sedikit memperlamaku untuk turun.

“Udah kejar aja langsung Bang, gak usah bayar angkot lagi. Cari aja becak”,

Aku gak tahu lagi siapa yang mengatakannya. Tapi karena aku sudah terbawa panik, aku turuti saja saran itu. Angkot tersebut kemudian bergerak maju. Aku tungguin sesaat becak yang mau melintas ke arahku. Aku hentikan seorang abang becak.

“Bang, bisa putar balik. Aku kena hipnotis nih. Sekitar semenit yang lalu”
“Oh, iya Bang. Ayok...!”, jawabnya serius sambil membantuku menaikkan koper.

“Berapa kena Bang”, tanyanya.
“Aduh sial kali bang. Kenapa aku gak sadar ya. 5jt Bang...” jawabku.
“Lumayan Bang, ke arah mana”.

Aku menujukkannya ke arah persimpangan dekat dengan stasiun Bus Batang Pane Baru. Namun tidak terlihat lagi. Kami putar lagi becaknya, melihat ke sekeliling untuk kedua kalinya. Namun mereka berdua tidak tampak lagi.

Sekiranya aku sedikit tenang sedikit saja, tentu aku tidak melupakan Or-1 yang masih dalam angkot. Dari Or-1 ini bisa saja aku mintai keterangan dan menuduhnya mau merampokku. Aku menduga dia mengincar koper yg kubawa. Berharap aku terbawa panik dan meninggalkan koperku dalam angkot. Tapi untung saja aku masih memegang erat koper ku. Dan di saat panik pun, aku  masih kepikiran koper tersebut. Lemas, lesu, kesal, murung, sedih yang luar biasa tiba-tiba menyeruak ke dalam pikiranku. Lunglai terasa.

"Udah lah bang, gak nampak lagi. Abang antar aja aku ke Jl. Pancing III. Berapa bang?”, tanyaku. Setelah deal dengan tarifnya, kami pun jalan.

Si abang becak mencoba meredakanku. Dia ceritakan bahwa Amplas dan Pasar Sambu merupakan kawasan paling rawan akan peristiwa yang baru saja kualami.

“Aku sebenarnya tahu Bang orang-orangnya, ya tahu sekedar gitu lah. Dari pakaian mereka, tampang mereka, sedikit mencurigakan.tapi gak enaklah main tuduh aja. Nanti berantam pula bang.”, dia menjelaskan.

Aku pun meng-iyakan dalam hati. Karena benar, orang-orang yang berprofesi seperti itu hanya bisa dihakimi saat tertangkap tangan sedang melakukan aksinya. Atau paling tidak kita punya bukti kuat akan barang yang diambilnya.

Sepanjang jalan dia juga menceritakan beberapa peristiwa yang langsung dia lihat. Salah satunya tentang seorang wanita tidak sadar ketika ada seorang pria meraba-raba payudaranya dengan leluasa. Na’udzu billah....tsumma na’udzu billah....

Jadi begini,
Dari pengalamanku di atas aku mau memberi poin-poin penting, dimana ini juga akan selalu kuingat seterusnya sejak peritiwa tersebut menimpaku :
Ä   KALAU ADA BARANG BAWAAN, APALAGI YANG MENCOLOK SEPERTI KOPER DAN TAS BESAR, USAHAKAN TIDAK MENAIKI KENDARAAN PUBLIK. NAIKI SAJA TAKSI, ATAU CUKUP BECAK. ATAU MINTA DIJEMPUT OLEH KERABAT, TEMAN DEKAT, DLL.
Ä        JANGAN LETAKKAN DOMPET/UANG DI SAKU BELAKANG KETIKA MENAIKI KENDARAAN PUBLIK, DAN BERADA DI FASILITAS PUBLIK LAINNYA (TERUTAMA ANGKOT). ATAU BIAR LEBIH AMAN, CUKUP PEGANG SAJA UANG UNTUK BAYAR TARIF ANGKUTAN, DAN SELEBIHNYA DISIMPAN DALAM TAS. DAN TAS TERSEBUT LETAKKAN PERSIS DI DEPAN KITA.
Ä  USAHAKAN TIDAK MEMBAWA UANG CASH (KONTAN). BIASAKAN MEMBAWA DAN MENGIRIM UANG LEWAT REKENING (ATM).
Ä    JANGAN SEKALI-KALI MAU DIAJAK NGOBROL OLEH SESEORANG YANG TIDAK DIKENAL KETIKA BERADA DI FASILITAS PUBLIK. (ABAIKAN SAJA).
previous home